Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Person of The Year Piala Dunia U-17 Selebriti Sidoarjo Sport Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pusat Kasino Terbesar Ada di Gentengkali Surabaya

Lambertus Hurek • 2026-03-14 09:25:05

 

BERSAMA: Manajer PT NIAC Mitra Agustinus Wenas (kanan) bersama pelatih NIAC Mitra Moh Basri.
BERSAMA: Manajer PT NIAC Mitra Agustinus Wenas (kanan) bersama pelatih NIAC Mitra Moh Basri.

RADAR SURABAYA - Tak banyak warga Surabaya masa kini yang tahu bahwa kota ini pernah punya pusat hiburan sekaligus kasino terbesar di tanah air.

Lokasinya berada di Jalan Gentengkali Nomor 93–95. Tempat itu dikelola PT New International Amusement Centre (NIAC) dan sempat menjadi magnet para pengusaha serta kalangan berduit pada era 1970-an.

Aktivis Jejak Petjinan Yonas Mawa mengatakan, gagasan pembangunan pusat rekreasi yang dilengkapi kasino itu diajukan secara resmi kepada Pemkot Surabaya pada 14 Oktober 1971. Surat tersebut diajukan oleh manajer PT NIAC Agustinus Wenas.

“Manajer PT NIAC mengirim surat permohonan pembangunan pusat rekreasi kepada Pemkot Surabaya. Setelah itu pemkot melakukan kajian,” ujar Yonas.

Menurut dia, sejak awal rencana tersebut sudah memicu perdebatan.

Sejumlah ulama dan sebagian masyarakat menyatakan keberatan karena keberadaan kasino dianggap melegalkan perjudian.

Namun, pemerintah kota saat itu memilih pendekatan berbeda.

Pemkot Surabaya akhirnya mengizinkan pembangunan pusat hiburan tersebut dengan syarat yang sangat ketat.

Kasino harus dibuat tertutup dan terisolasi dari kehidupan masyarakat umum. “Istilahnya dulu karantina perjudian,” kata Yonas.

Dengan konsep itu, pemerintah berharap aktivitas perjudian bisa dikendalikan di satu lokasi tertentu.

Wali Kota Surabaya saat itu, Soekotjo, menegaskan kebijakan tersebut bukan untuk mencari pemasukan bagi kas daerah.

Menurut dia, tujuan utamanya justru untuk memberantas perjudian liar yang saat itu sulit diawasi.

“Pemkot lebih mudah mengawasi kalau aktivitas itu berada di satu tempat. Daripada dibiarkan menyebar tanpa kontrol di mana-mana,” ujar Soekotjo dalam sejumlah arsip pemberitaan masa itu.

Tak butuh waktu lama, pusat hiburan di Gentengkali tersebut menjadi sangat ramai.

Banyak pengusaha dan orang berduit datang untuk mencoba peruntungan. Bisnis kasino itu juga membuat Wenas meraih keuntungan besar.

Sebagian keuntungan tersebut kemudian digunakan untuk membiayai klub sepak bola NIAC Mitra.

Tim itu menjelma menjadi salah satu kekuatan besar sepak bola nasional pada era 1980-an.

Namun, keberadaan kasino di Gentengkali tak pernah benar-benar sepi dari kritik. Protes dari masyarakat dan kalangan ulama terus menguat.

Mereka menolak segala bentuk perjudian, termasuk yang dikarantina dalam satu tempat.

Tekanan itu akhirnya berujung pada kebijakan nasional. Pada akhir Februari 1981, Menteri Dalam Negeri menginstruksikan semua gubernur, bupati, dan wali kota di Indonesia untuk mencabut izin perjudian di daerah masing-masing.

Instruksi tersebut langsung ditindaklanjuti Pemkot Surabaya. Pada 17 Maret 1981, wali kota resmi mencabut izin operasional PT NIAC.

Dengan keputusan itu, era kasino Gentengkali pun berakhir. Klub sepak bola NIAC Mitra ikut berkabung atas penutupan tersebut.

Meski demikian, Agustinus Wenas tetap dikenal sebagai pengusaha sukses. Ia terus mengembangkan bisnisnya, terutama jaringan bioskop hingga sektor properti di Surabaya. (rek)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#surabaya punya kasino #Gentengkali #kasino di surabaya #agustinus wenas #niac mitra #sepakbola #pemkot surabaya