RADAR SURABAYA – Puasa di bulan Ramadan tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga kerap dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan. Salah satu mekanisme yang banyak dibahas adalah autofagi, yaitu proses alami tubuh dalam membersihkan serta mendaur ulang bagian sel yang sudah rusak.
Dalam dunia Biologi Sel, autofagi diibaratkan sebagai sistem “bersih-bersih” di dalam sel. Proses ini membantu tubuh membuang komponen sel yang tidak lagi berfungsi, kemudian memanfaatkan kembali bagian yang masih bisa digunakan. Dengan demikian, sel tetap bekerja optimal dan keseimbangan fungsi tubuh dapat terjaga.
Baca Juga: Keutamaan Puasa Ramadhan Hari ke-19, Malaikat Memohon Izin Menziarahi Orang yang Berpuasa
Sel merupakan unit dasar penyusun organ dan jaringan. Seiring waktu, berbagai komponen di dalam sel dapat mengalami kerusakan. Jika bagian yang rusak tersebut menumpuk, kinerja sel dapat terganggu. Kondisi ini mirip seperti rumah yang dipenuhi barang tidak terpakai tanpa pembersihan rutin sehingga fungsinya menjadi kurang optimal.
Melalui proses autofagi, sel akan membungkus komponen yang rusak atau tidak lagi dibutuhkan. Bagian tersebut kemudian dikirim ke struktur khusus di dalam sel untuk dihancurkan. Setelah itu, komponen yang masih bermanfaat akan didaur ulang menjadi bahan yang dapat digunakan kembali oleh sel.
Proses autofagi sebenarnya terjadi secara alami di dalam tubuh setiap saat. Namun, aktivitasnya dapat meningkat ketika tubuh berada dalam kondisi stres ringan, misalnya saat asupan nutrisi berkurang.
Baca Juga: Puasa Ramadan Ternyata Simpan Manfaat Luar Biasa bagi Penguatan Mental, Ini Kata Dosen Unesa
Saat seseorang menjalankan puasa, tubuh tidak menerima makanan dan minuman selama beberapa jam. Kondisi ini menyebabkan kadar gula darah dan hormon insulin menurun. Tubuh kemudian beralih menggunakan cadangan energi yang tersedia, termasuk memanfaatkan kembali komponen di dalam sel. Perubahan inilah yang dapat memicu peningkatan aktivitas autofagi.
Dosen gizi kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, menjelaskan bahwa puasa Ramadan berpotensi membantu proses detoksifikasi tubuh melalui mekanisme tersebut.
“Durasi puasa dapat memicu autofagi di dalam tubuh manusia. Sebab, autofagi membutuhkan sekitar 12–16 jam, sementara puasa Ramadan bisa berlangsung 13–14 jam, bahkan di beberapa negara bisa lebih panjang,” ujarnya.
Baca Juga: 6 Tips Menghadapi Cuaca Ekstrem saat Ramadan agar Puasa Tetap Sehat
Sejumlah penelitian menunjukkan mekanisme ini memiliki berbagai manfaat bagi tubuh. Autofagi dapat membantu mengurangi Stres Oksidatif yang merusak sel, menjaga stabilitas DNA dan gen, serta membantu mencegah kerusakan sel yang berkaitan dengan penuaan dini.
Selain itu, proses ini juga meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi menjadi energi. Autofagi berperan dalam membuang limbah sel, menghancurkan patogen atau bahan asing, serta membantu mengurangi peradangan di dalam tubuh.
Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa autofagi berpotensi membantu mencegah pembentukan zat beracun dan tumor. Di sisi lain, proses ini turut mendukung sistem kekebalan tubuh serta membantu menjaga fungsi saraf di otak. (shf/fir)
Editor : M Firman Syah