RADAR SURABAYA - Masjid Rahmat yang berada di Jalan Kembang Kuning No.79-81 Kelurahan Darmo, Wonokromo Surabaya merupakan masjid tua dan menjadi acuan penada waktu salat di Surabaya serta sekitarnya.
Masjid Rahmat dahulu merupakan langgar tiban yang didirikan oleh Sunan Ampel.
Takmir masjid Rahmat Mustar Bakhri, mengatakan cikal bakal pendirian masjid yang terletak di Jalan Kembang Kuning, Surabaya itu bermula saat Sunan Ampel melakukan perjalanan dari Majapahit ke Ampel Denta.
Perjalanan Sunan Ampel dimulai dari Majapahit (Mojokerto) menyusuri sungai Brantas.
Pertama kali Raden Rahmat singgah di Kembang Kuning. Di Kembang Kuning yang dahulu masih berupa hutan Raden Rahmat bertemu dengan Ki Wiryo Saroyo atau dikenal Ki Bang Kuning.
Dalam perjalanan waktu, Ki Bang Kuning takluk dengan Raden Rahmat dan menjadi pengikut.
Raden Rahmat kemudian ditawari menikah dengan anak Ki Wiryo Saroyo bernama Karimah.
Raden Rahmat kemudian menikah dengan Nyai Karimah dan memiliki dua anak Murtosiah dan Murtosimah.
Setelah berada di kawasan Kembang Kuning, Raden Rahmat mendirikan surau. Lalu melanjukan perjalanan ke Ampel Denta. "Masjid Rahmat dulu berupa surau kecil," ucapnya.
Sebelum menjadi masjid Rahmat, surau atau musala bentuknya kecil. Kemudian seiring berjalannya waktu, surau tersebut direnovasi menjadi masjid besar.
"Pemugaran menjadi masjid Rahmat pertama kali terjadi sekitar tahun 1950-an yang dilakukan secara bertahap dan diresmikan pada tahun 1967. Penamaan Masjid "Rahmat" diambil dari nama asli Sunan Ampel, yaitu Raden Sayyid Ali Rahmatullah," bebernya.
Dia melanjutkan, Masjid Rahmat sejak tahun 1970-an sudah menjadi acuan penanda waktu salat atau azan bagi masjid lainnya di Surabaya serta sekitarnya.
Selain itu dengan pengembangan radio Yasmara, Masjid Rahmat juga menjadi acuan waktu salat (azan) bagi daerah sekitar Surabaya, seperti Sidorjo Gresik hingga Pasuruan. (rus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa