RADAR SURABAYA – Bulan Ramadhan selalu menjadi waktu yang dinanti umat Muslim di seluruh dunia. Datangnya bulan suci tak hanya menghadirkan suasana religius dan kebersamaan, tetapi juga membuka peluang besar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan sosial, tuntutan pekerjaan, serta derasnya arus informasi, ajakan memperbanyak taubat dan istigfar kembali menguat. Ramadhan bukan semata menahan lapar dan dahaga, melainkan bulan penuh rahmat dan ampunan, sekaligus momentum nyata untuk melakukan perbaikan spiritual.
Umat Islam meyakini, setiap amal kebaikan di bulan ini dilipatgandakan pahalanya. Termasuk istigfar, yakni permohonan ampun kepada Allah SWT yang menjadi bagian penting dalam ibadah seorang Muslim.
Baca Juga: Ramadan Penuh Berkah, Ini Adab dan Doa Mustajab yang Dianjurkan
Praktik istigfar bukan sekadar tradisi turun-temurun. Ia berlandaskan ajaran Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk memohon ampun serta menjanjikan keberkahan bagi mereka yang bersungguh-sungguh melakukannya. Siapa pun yang memohon ampun di bulan suci diyakini akan mendapati pintu rahmat terbuka lebar.
Sejumlah keutamaan istigfar kian terasa selama Ramadhan.
Pertama, istigfar membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Permohonan ampun menjadi bentuk pengakuan atas kesalahan sekaligus penyesalan tulus. Dari sana, hati menjadi lebih tenang dan hubungan spiritual semakin kuat.
Kedua, waktu malam dan sahur dikenal sebagai waktu mustajab. Banyak ulama menyebut sepertiga malam terakhir sebagai waktu istimewa ketika doa lebih mudah dikabulkan dan ampunan dicurahkan. Pada waktu tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan istigfar.
Baca Juga: Perbanyak Dzikir dan Doa, Raih Ketenangan Jiwa di Bulan Ramadhan
Ketiga, sepuluh malam terakhir Ramadhan memiliki kedudukan khusus karena adanya Lailatul Qadr, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Momentum ini menjadi kesempatan besar untuk meraih ampunan melalui ibadah dan istigfar yang sungguh-sungguh.
Sebagian orang mungkin merasa ibadah puasanya sudah cukup. Padahal tanpa istigfar, ibadah berpotensi menjadi rutinitas tanpa makna. Dalam kehidupan yang serba cepat, manusia kerap melakukan kesalahan, baik disadari maupun tidak. Istigfar menjadi cara membersihkan batin dari beban dosa yang luput dari perhatian.
Lebih dari sekadar lafaz di lisan, istigfar adalah dialog batin antara hamba dan Tuhannya. Ia menumbuhkan sikap rendah hati, kedisiplinan spiritual, serta kesadaran bahwa manusia penuh keterbatasan.
Baca Juga: Doa Seribu Lilin di Labuan Bajo, Tangis Keluarga Pelatih Valencia Pecah
Agar tidak berhenti sebagai wacana, ada langkah sederhana yang bisa dilakukan. Misalnya menetapkan target harian membaca istigfar setelah setiap salat, memanfaatkan waktu sahur dan sepertiga malam terakhir untuk berdoa, serta menjadikan istigfar sebagai refleksi diri saat melakukan kesalahan. Yang terpenting, melafalkannya dengan kesadaran dan penghayatan, bukan sekadar rutinitas.
Ramadhan adalah kesempatan yang belum tentu datang dua kali. Di bulan penuh ampunan ini, memperbanyak istigfar bukan hanya anjuran, melainkan kebutuhan. Dari sanalah pintu rahmat dan keberkahan terbuka lebar bagi siapa pun yang ingin kembali mendekat kepada-Nya. (ida/fir)
Editor : M Firman Syah