RADAR SURABAYA – Hajar Aswad merupakan salah satu bagian paling dikenal dari Ka'bah di Makkah. Batu tersebut terpasang di sudut timur Ka’bah dan menjadi titik awal sekaligus akhir thawaf bagi jamaah haji dan umrah.
Dalam sejumlah riwayat hadits disebutkan, Hajar Aswad pada awalnya tidak berwarna hitam. Batu itu diyakini berasal dari surga dan memiliki warna putih cerah, bahkan lebih putih daripada susu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda bahwa Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan sangat putih, lalu menghitam karena dosa-dosa manusia (HR Imam Tirmidzi).
Baca Juga: Museum Al-Qur’an Makkah Pamerkan Lembaran Langka Al-Qur’an Biru Abad ke-9
Riwayat lain menyebutkan, Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim adalah dua permata dari surga yang cahayanya dihapus oleh Allah SWT. Seandainya tidak dihapus, sinarnya disebut mampu menerangi antara timur dan barat.
Penjelasan serupa juga dikemukakan ulama tafsir Ibnu Katsir. Dalam tafsirnya, disebutkan bahwa batu tersebut dibawa oleh Malaikat Jibril dalam keadaan putih, kemudian berubah warna seiring banyaknya kemaksiatan manusia.
Baca Juga: Indonesia Resmi Miliki Hotel di Makkah, Jadi Kampung Haji Pertama untuk Jemaah
Dalam literatur sejarah Islam, terdapat pula pandangan bahwa perubahan warna Hajar Aswad merupakan bagian dari hikmah ilahi. Sebagian ulama berpendapat, Allah SWT menutup cahaya batu tersebut agar manusia tidak berlebihan dalam mengagungkannya.
Ada pula yang menyatakan, warna hitam itu memang bagian dari ketetapan Allah sejak awal, sementara riwayat perubahan warna berfungsi sebagai pengingat akan dampak dosa.
Baca Juga: Nasib Sukardi Jamaah Haji Malang yang Hilang di Makkah Masih Menunggu Hasil DNA
Terlepas dari perbedaan pendekatan tersebut, umat Islam meyakini Hajar Aswad memiliki nilai spiritual tinggi, bukan karena zat atau warnanya semata, melainkan karena kedudukannya dalam syariat. Rasulullah SAW mencium Hajar Aswad saat thawaf sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, bukan sebagai bentuk penyembahan terhadap batu.
Hingga kini, Hajar Aswad tetap menjadi simbol penghambaan dan pengingat pentingnya menjaga kesucian diri dari dosa. Wallahu a’lam bish-shawab. (rif/fir)
Editor : M Firman Syah