Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Inilah Tempat Mangkal Komunitas Waria di Surabaya

Lambertus Hurek • Sabtu, 28 Februari 2026 | 20:00 WIB

TOKOH: Pangky Kentut di eranya bolak-balik muncul di pemberitaan media cetak.
TOKOH: Pangky Kentut di eranya bolak-balik muncul di pemberitaan media cetak.

RADAR SURABAYA - Di masa lalu komunitas waria Surabaya biasa mangkal di Jalan Irian Barat alias Irba.

Kisah Irba ini tak bisa dilepaskan dari perjuangan Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos) yang dipimpin Pangky Kentut.

Pada awal Februari 1980, Pangky bersama pengurus Perwakos mendatangi kantor Pemerintah Kota Madya Surabaya di Jalan Jimerto.

Mereka menemui Wali Kota Moehadji Widjaja.

Mereka minta ruang yang layak dan aman untuk mengembangkan bakat dan kreativitas.

Sebab, selama ini, komunitas transpuan kerap berpindah-pindah tempat, menghadapi pengusiran, bahkan razia.

Tempat penampungan sementara di Jalan Mayjen Sungkono yang pernah diberikan wali kota sebelumnya hanya bertahan sebulan.

Kondisinya terbuka, tanpa atap memadai, tak memberi perlindungan dari panas dan hujan.

Dikutip dari majalah Liberty edisi 1 Maret 1980, Pangky meminta dua hal: bekal keterampilan dan tempat berkumpul yang aman.

Ia menegaskan pentingnya perlindungan hak atas ruang untuk berekspresi, bebas dari razia dan tindak kekerasan, serta dukungan pemenuhan hak ekonomi bagi waria.

Kala itu, Pemkot Surabaya memang masih memandang keberadaan transpuan sebagai bagian dari persoalan ketertiban umum. Razia kerap digelar.

Namun, dialog yang dibangun Perwakos membuahkan hasil.

Moehadji menjanjikan pelatihan keterampilan, seperti menjahit, serta tempat penampungan.

Kemudian mengerucut pada satu titik di Jalan Irian Barat.

Kawasan di dekat sungai itu pun ditetapkan sebagai lokasi resmi tempat berkumpul komunitas waria.

Sejak saat itu, Irbar menjelma menjadi ruang sosial baru.

Aparat tak lagi melakukan razia di sana. Bahkan, mereka disebut turut menjaga keamanan.

“Kita dikasih tempat untuk kumpul atau mejeng, tapi enggak boleh terima tamu atau bikin prostitusi,” ujar Pangky.

Waktu berjalan. Kebijakan pun berganti. Saat Tri Rismaharini menjabat Wali Kota Surabaya, penertiban kawasan yang dianggap terkait praktik prostitusi dilakukan di berbagai titik, termasuk Irba.

Lokasi yang dulu menjadi ruang aman itu akhirnya ditutup bersama tempat-tempat mangkal lainnya. (ara/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Perwakos #Pangky Kentut #irba #komunitas waria #jalan jimerto #jalan irian barat surabaya