Radar Surabaya - Ramadan memasuki malam ketujuh. Di tengah konsistensi ibadah yang terus dijaga, sebagian umat Islam mengenal adanya keutamaan khusus pada setiap malam tarawih, termasuk malam ke-7.
Dalam kitab Durratun Nashihin disebutkan gambaran fadhilah yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tarawih pada malam ketujuh diibaratkan seperti berada di masa perjuangan Nabi Musa AS.
Keterangan itu tertulis sebagai berikut:
وَفِى اللَّيْلَةِ السَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا اَدْرَكَ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَنَصَرَهُ عَلَى فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ
Artinya: Pada malam ketujuh, seakan-akan menemui zaman Nabi Musa AS dan menolongnya dari serangan Fir’aun dan Haman.
Perumpamaan tersebut merujuk pada perjuangan Nabi Musa AS dalam menghadapi kekuasaan Fir’aun dan Haman. Dalam sejarah kenabian, fase itu dikenal sebagai masa penuh ujian sekaligus kemenangan bagi kebenaran.
Gambaran “menolong” Nabi Musa AS tentu bukan dalam arti harfiah, melainkan simbol atas besarnya pahala yang dijanjikan. Ibadah pada malam ketujuh diposisikan seolah-olah mengambil bagian dalam perjuangan melawan kezaliman.
Penjelasan mengenai fadhilah tiap malam ini berasal dari karya ulama dan kerap dijadikan motivasi untuk menghidupkan Ramadhan dengan ibadah. Malam ketujuh pun menjadi bagian dari rangkaian kesempatan yang diyakini memiliki nilai spiritual tersendiri. (fid/fir)
Editor : M Firman Syah