RADAR SURABAYA - Surabaya tak pernah kehabisan cerita heroik. Di balik riuh kendaraan yang kini melintas di Jembatan Wonokromo, tersimpan jejak pertempuran dahsyat yang pernah mengguncang Kota Pahlawan pada Oktober 1945.
Peristiwa itu kerap disebut sebagai Pertempuran Lima Jam Wonokromo.
Namun, menurut pegiat sejarah Surabaya Nur Setiawan, sebutan tersebut justru menyederhanakan kedahsyatan yang sebenarnya terjadi.
“Sebetulnya pertempuran Wonokromo bukan lima jam. Lima jam itu hanya puncak pertempuran sengit tanpa henti. Totalnya jauh lebih lama dan memakan banyak korban jiwa,” tutur wawan, sapaan karib Nur Setiawan.
Pertempuran itu bermula pada petang 28 Oktober 1945, ketika pasukan Inggris yang di dalamnya terdapat tentara Gurkha mulai bergerak menginvasi Surabaya hingga ke wilayah selatan.
Gelagat tersebut segera dibaca para pejuang Republik sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan yang baru seumur jagung.
Perlawanan pun pecah. Sejak malam 28 Oktober hingga dini hari 29 Oktober, baku tembak terjadi tanpa jeda.
Di bawah pimpinan Darmosoegondo dan Mayjen Joenosowojo, dua batalyon pejuang Republik menyerbu posisi pasukan Gurkha secara frontal.
“Baku tembaknya tiada henti, seperti hujan deras disertai petir,” kenang Wawan, menggambarkan suasana medan tempur kala itu.
Pasukan Gurkha, yang dikenal berpengalaman dan tak gentar karena jam terbangnya di Perang Dunia II, justru mendapat perlawanan di luar dugaan.
Banyak dari mereka gugur dan tergeletak di tepi jalan, menjadi saksi bisu kegigihan arek-arek Suroboyo mempertahankan tanah air.
Menurut Wawan, Pertempuran Wonokromo merupakan bagian dari fase pertama Perang 10 November Surabaya, yang berlangsung pada 27–29 Oktober 1945, sebelum akhirnya mencapai puncaknya pada 10 November.
Tujuan utama para pejuang kala itu satu: mencegah tentara Inggris menembus Jembatan Wonokromo, jalur strategis menuju pusat kota.
Pertempuran paling dahsyat terjadi di antara Jembatan Wonokromo hingga kawasan Kebun Binatang Surabaya.
Jejak heroisme itu kini diabadikan melalui Monumen Wira Surya Agung yang berdiri megah di sisi utara Jembatan Wonokromo.
Patung-patung pejuang yang siaga seolah mengingatkan bahwa tempat itu pernah menjadi arena pertaruhan nyawa demi kemerdekaan.
“Sudah seyogyanya generasi muda Surabaya tidak melupakan peristiwa heroik ini. Inilah jati diri Kota Pahlawan,” tegasnya.
Di tengah modernisasi kota, kisah Pertempuran Wonokromo menjadi pengingat bahwa Surabaya berdiri bukan hanya di atas beton dan aspal, tetapi juga di atas keberanian, darah, dan pengorbanan para pejuang bangsa. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa