RADAR SURABAYA - Yayasan Pra Yuwana di Jalan Pasar Kembang 4, Surabaya, pernah menjadi tempat yang melegenda.
Lembaga ini pada masa kolonial Belanda dengan nama Vereniging Pro Juventute Soerabaia.
Fungsinya menampung dan mendidik anak-anak yang dianggap nakal.
Guru-gurunya kala itu orang-orang Belanda, sementara muridnya beragam, dari anak-anak yang sering membolos hingga mereka yang kerap terlibat masalah kecil di lingkungan.
“Meski dicap nakal, anak-anak yang masuk Pra Yuwana bukanlah penderita gangguan jiwa,” kata Djono W. Oesman, mantan wartawan Jawa Pos.
Pria asli Surabaya itu menyebut pada 1922 Vereniging Pro Juventute Soerabaia mendapat sumbangan tanah dari seorang bangsawan pribumi di Klakah, Lumajang.
Di sanalah kemudian dibangun Pra Yuwana sebagai tempat penampungan dan pendidikan anak-anak bermasalah.
Setelah Indonesia merdeka, pada 1950 lembaga ini diserahkan oleh pihak Belanda kepada pihak Indonesia. Ketua pertamanya Mr. Santoso. Syarat masuk Pra Yuwana cukup ketat.
“Anak harus laki-laki berusia 10 hingga 16 tahun, tidak mengidap penyakit menular, benar-benar terbukti nakal,” katanya.
Daya tampungnya sekitar 50 kamar dan seluruh biaya ditanggung yayasan. Pra Yuwana juga mendapat bantuan dari pemerintah.
“Dulu anak-anak Surabaya yang nakal biasanya ditakut-takuti orang tuanya. Kalau nakal terus nanti dimasukkan ke Pra Yuwana,” kenang Djono.
Sayang, pada tahun 2000, Pra Yuwana di Jalan Pasar Kembang digusur.
Tanah seluas 5.128 meter persegi beserta bangunan warisan Belanda itu kemudian dikuasai PT Bina Mobira Raya.
Setelah digusur, Pra Yuwana sempat pindah ke kawasan Petemon Timur, tetapi tidak bertahan lama.
Kini, para pengurus yayasan berusaha menghidupkan kembali semangat lama dengan merintis tempat penampungan anak-anak di Klakah, Lumajang. (rek/opi)
Editor : Nofilawati Anisa