RADAR SURABAYA - Kota Surabaya yang kini menjelma sebagai metropolitan modern, ternyata tumbuh dari denyut kehidupan kampung-kampung tua yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.
Sejarawan Kota Surabaya, Nanang Purwono, menegaskan, wajah Surabaya hari ini merupakan hasil proses panjang yang berakar kuat pada kehidupan perkampungan.
“Surabaya sekarang ini terbentuk dari kehidupan kampung atau desa dalam proses yang sangat lama, berabad-abad. Kampung-kampung itulah fondasi awalnya,” ujar Nanang, Kamis (29/1).
Nanang menjelaskan, secara fisik Kota Surabaya yang pada masa kolonial dikenal sebagai Stad van Soerabaia.
Mulai terbentuk pada abad ke-17, tepatnya pada era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Kala itu, VOC mendirikan pos dagang untuk memantau aktivitas perdagangan di kawasan Kampung Baru Bangilan, yang berada di sisi timur Sungai Kalimas.
“Kampung Baru Bangilan ini menjadi salah satu titik awal terbentuknya Surabaya kolonial. Dari sinilah aktivitas dagang VOC diawasi, sekaligus menjadi embrio kawasan Eropa di Surabaya,” jelasnya.
Kini, Kampung Baru Bangilan dikenal sebagai salah satu kampung historis di Surabaya Utara.
Lokasinya berada di kawasan Kota Tua dan tak jauh dari Jalan Panggung, yang sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan tua.
Jejak kejayaan masa lalu itu masih dapat dirasakan hingga kini, baik dari struktur bangunan maupun aktivitas ekonomi yang tetap bertahan.
Di ujung utara Jalan Panggung, tepatnya mengarah ke barat melalui Jalan Gambir hingga Kalimas Utara, dahulu berdiri pelabuhan sungai yang menjadi urat nadi perdagangan Surabaya sebelum adanya Pelabuhan Tanjung Perak.
Di kawasan tersebut masih berdiri bangunan Syahbandar peninggalan Hindia Belanda.
“Bangunan Syahbandar itu unik. Di sana masih ada logo resmi Pemerintah Surabaya dan Batavia. Bahkan di seberang sungainya, dulu berdiri Pos Dagang VOC,” terang Nanang.
Sebagai pelabuhan sungai utama, kawasan Kalimas kala itu sangat ramai.
Pasar, pusat perdagangan, dan pemukiman tumbuh berdampingan.
Sisa-sisa keramaian tersebut masih bisa dilihat hingga sekarang melalui Pasar Pabean dan deretan ruko-ruko tua di sepanjang Jalan Panggung.
Tak hanya pusat ekonomi, kawasan itu juga menjadi ruang hidup masyarakat.
Gang-gang sempit di Pabean hingga Kampung Baru Bangilan menunjukkan betapa padatnya pemukiman sejak era VOC.
Berdasarkan peta-peta kolonial, wilayah di antara Sungai Kalimas dan Pegirian telah tergambar sebagai kawasan hunian yang rapat.
“Bangunan-bangunan rumah yang bergerombol itu menandakan adanya komunitas yang hidup dan berkembang. Kampung-kampung ini yang menyokong dinamika Surabaya sejak zaman VOC,” tegas Nanang.
Seiring pertambahan penduduk dan aktivitas ekonomi, kepadatan kampung kemudian menyebar ke luar lingkaran dua sungai tersebut.
Dari perkampungan tradisional, Surabaya berkembang menjadi Gemeente (kotapraja), lalu kotamadya, hingga akhirnya menjadi kota besar seperti saat ini.
“Surabaya urban sekarang adalah jelmaan dari Surabaya rural. Ia tumbuh dari kampung, lalu berkembang menjadi kota pelabuhan penting pada masa kolonial Belanda,” imbuhnya.
Saat ini, Pemerintah Kota Surabaya juga mulai menaruh perhatian serius terhadap kampung-kampung tua tersebut.
Sejumlah kawasan dikelola sebagai destinasi wisata sejarah dan cagar budaya, sebagai upaya menjaga memori kolektif kota.
“Merawat kampung lama sama dengan merawat jati diri Surabaya,” pungkas Nanang. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa