RADAR SURABAYA - Pasar Turi merupakan salah satu pasar kuno yang memiliki pengaruh dalam perjalanan sejarah Kota Surabaya.
Hingga kini, pasar yang masuk dalam jajaran pasar tua di Kota Pahlawan itu masih beroperasi.
Bahkan Pasar Turi menjadi tujuan banyak warga, baik untuk berbelanja maupun mengenang jejak masa lalu.
Pegiat Sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan menyebut keberadaan Pasar Turi diperkirakan sudah ada sejak masa kekeratonan Surabaya pada abad ke-17 hingga ke-18 Masehi.
Lokasinya berada di sisi barat Keraton Surabaya, kawasan yang saat itu dinilai strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakat keraton.
“Letaknya juga tidak jauh dari Masjid Suropringgo. Pasar Turi diduga sejak awal menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar pria yang akrab disapa Wawan itu.
Memasuki masa kolonial, Pasar Turi mengalami penataan yang cukup signifikan.
Pasar yang awalnya hanya terdiri dari satu lantai mulai dirancang lebih rapi.
Bedak dan lapak pedagang ditata sedemikian rupa, meskipun tetap berkonsep pasar tradisional.
Secara fisik, Pasar Turi pada masa itu sudah tergolong modern.
Bangunan pasar dilengkapi atap memanjang yang membuat pengunjung terlindung dari panas matahari maupun hujan.
Kondisi tersebut menjadikan Pasar Turi sebagai salah satu pusat perdagangan yang nyaman di zamannya.
Pada masa awal kemerdekaan, kawasan di sekitar Pasar Turi juga memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan.
Tepat di dekat pasar terdapat sebuah lapangan yang menjadi tempat berkumpulnya massa pada September 1945.
Massa dari dalam dan luar Surabaya saat itu datang untuk menyatakan serta mempertahankan kedaulatan Indonesia dari bangsa asing.
“Meski aksi tersebut tidak berjalan maksimal karena berbagai faktor, kawasan Pasar Turi tetap tercatat sebagai bagian dari denyut perjuangan rakyat Surabaya,” jelas Wawan.
Memasuki era 1970-an, Pasar Turi kembali mengalami pemugaran. Pasar yang sebelumnya bersifat semi tradisional dan hanya satu lantai, mulai dibangun secara bertahap.
Tahap pertama pembangunan menghasilkan beberapa lantai, dengan jumlah pedagang yang semakin banyak serta jenis barang dagangan yang semakin beragam.
Pada periode inilah Pasar Turi mencapai masa kejayaannya, terutama hingga awal tahun 1990-an.
Para tengkulak dari luar Pulau Jawa datang untuk membeli barang dalam jumlah besar dan menjualnya kembali ke daerah asal.
Namun, perjalanan Pasar Turi tidak selalu mulus. Kebakaran hebat melanda pasar yang berada di bawah naungan Pemerintah Kota Surabaya tersebut.
Peristiwa itu menimbulkan kerugian besar hingga mencapai miliaran rupiah.
Kebakaran terakhir pada awal 2000-an membuat Pasar Turi sempat kosong dan mangkrak dalam waktu lama.
Aktivitas perdagangan pun terhenti, meninggalkan bangunan yang tak lagi ramai seperti masa jayanya.
Kini, Pasar Turi telah berdiri kembali dengan wajah dan gaya baru setelah direnovasi.
Meski tidak seramai dulu, keberadaannya tetap menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas Kota Surabaya, sekaligus saksi perjalanan panjang perdagangan rakyat dari masa ke masa. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa