RADAR SURABAYA - Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nanang Purwono, terus menelusuri keberadaan Syurabhaya.
Yaitu sebuah desa di tepian sungai atau naditira pradesa yang disebut dalam Prasasti Canggu tahun 1358 M pada masa pemerintahan Raja Majapahit Hayam Wuruk.
Dalam prasasti tersebut, Syurabhaya disebut berada di wilayah hilir sungai, tepatnya di anak Sungai Brantas.
Nanang menjelaskan, anak Sungai Brantas yang dimaksud dalam Prasasti Canggu adalah Kali Surabaya, yang pada masa-masa berikutnya lebih dikenal sebagai Sungai Kalimas.
Sungai ini mengalir dari selatan ke utara, kemudian bercabang dua di kawasan Genteng.
“Anak sungai Brantas itu adalah Kali Surabaya. Pada zaman selanjutnya, Kali Surabaya dikenal dengan nama Sungai Kalimas karena mengalir melewati wilayah Surabaya,” kata Nanang, Jumat (2/1).
Ia memaparkan, salah satu cabang sungai tersebut adalah Kali Pegirian, sementara alur utama Kalimas dari Genteng mengalir melewati kawasan Peneleh, Cantian, Krembangan, hingga bermuara di Teluk Lamong.
Berdasarkan Prasasti Canggu, posisi Syurabhaya berada di bagian sungai paling hilir, di utara wilayah Bungkul (Bkul) dan Pagesangan (Gsang).
Dari pelacakan sejarah, temuan arkeologi, serta pertimbangan logika geografis, Nanang menduga kawasan Peneleh sebagai lokasi Syurabhaya.
Secara alamiah, wilayah ini merupakan delta sungai yang terletak di antara Sungai Kalimas dan Kali Pegirian.
“Kalau melihat keterangan prasasti dan kondisi geografisnya, Syurabhaya sangat mungkin berada di kawasan delta sungai, yakni di antara Kalimas dan Pegirian. Dari situ, Peneleh menjadi dugaan paling kuat,” ujarnya.
Dugaan tersebut diperkuat dengan penemuan arkeologi di Kampung Pandean IV, Peneleh.
Pada 2018, saat dilakukan penggalian untuk proyek gorong-gorong, ditemukan sumur jobong, jenis sumur yang umum digunakan pada era Majapahit, serta batu bata kuno, tulang manusia, dan tulang binatang.
Berdasarkan hasil penelitian di Australia, sumur jobong tersebut diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 1430 M, bahkan tidak menutup kemungkinan lebih tua.
“Sumur dan tulang ini merupakan bukti otentik adanya kehidupan manusia. Tulang menunjukkan keberadaan manusia, sedangkan sumur adalah bukti kebutuhan domestik masyarakat pada masa itu,” jelas Nanang. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa