RADAR SURABAYA - Ada banyak destinasi wisata luar biasa yang ditawarkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Selain popular dengan ragam kuliner seperti rujak cingur, lontong balap, dan sambal pedasnya, Surabaya juga memiliki daya tarik lain, yaitu museum.
Pengamat sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, dari sekitar 439 museum yang ada di seluruh Indonesia, 13 di antaranya ada di Kota Surabaya.
“Salah satu museum tersebut adalah Museum Pendidikan yang diresmikan oleh Wali Kota Tri Rismaharini pada 25 November 2019. Museum ini terletak di Jalan Genteng Kali No. 10,” kata Nanang, Senin (29/12).
Museum ini terletak di tepian Sungai Kalimas, menyatu dengan Taman Ekspresi yang diresmikan pada 7 Mei 2011 oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.
Selain asri dengan banyak pohon, tempat ini juga sudah dilengkapi dengan area parkir berbayar.
“Fasilitas yang tersedia di Museum Pendidikan cukup lengkap, antara lain diorama kelas, meja kursi taman di halaman, toilet, ruang laktasi, dan musala,” sambungnya.
Memasuki ruangan museum, terpajang diorama manusia purba sedang menyalakan api di sebelah kiri kemudian diikuti oleh koleksi lainnya seperti buku dan naskah kuno, lontar, dan beberapa narasi koleksi museum di sebelah kanan sejajar dengan dinding.
“Museum ini menampilkan sejarah pendidikan mulai dari pra aksara, zaman kerajaan, kolonial, perjuangan hingga kemerdekaan,” jelas Nanang.
Ia menyebut, salah satu yang menarik perhatian adalah koleksi naskah berbahan kulit yang berisi Macapat.
Keterangan yang ditulis di bawah koleksi menyebutkan bahwa naskah tersebut diawali dengan Pupuh Asmarandana.
“Selain tembang macapat, ada juga koleksi beraksara Jawa lainnya yang ditulis di atas kertas, menceritakan tentang Nabi Muhammad dan keturunannya. Namun kondisi naskah tersebut sudah banyak yang rusak sehingga aksara Jawa sudah banyak yang tidak terbaca. Meskipun terdapat keterangan koleksi namun tidak ada keterangan naskah tersebut ditulis kapan,” jelasnya.
Menuju ruangan berikutnya, kita bisa melihat patung seorang anak sedang belajar mengaji dengan guru.
Pada ruangan dengan tema ‘era kolonial’ terdapat sepeda yang dipajang lengkap dengan patung yang menggambarkan sosok guru laki-laki membawa tas kulit dan memakai songkok.
Di ruangan ini juga terdapat koleksi mesin ketik kuno, lampu teplok, buku, majalah dan bangku sekolah yang pernah digunakan di sekolah tempo dulu.
Di bagian belakang ruangan ini terdapar patung yang menggambarkan seragam anak sekolah mulai dari jenjang pendidikan dasar yaitu merah putih, biru putih untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan abu-abu putih yang dipakai untuk seragam murid tingkat SLTA.
“Museum ini melayani pengunjung mulai dari pukul 08.00-21.00 WIB. Namun seperti museum lainnya, museum ini tidak memberi layanan pada hari Senin. Museum Pendidikan Surabaya ini bisa dikatakan ramah pengunjung mancanegara karena narasi yang disajikan sudah menggunakan Bahasa Inggris,” jelasnya. (opi)
Editor : Nofilawati Anisa