Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jejak Alun-Alun Klasik Pusat Pemerintahan Surabaya

Mus Purmadani • Senin, 29 Desember 2025 | 23:34 WIB

DARI ATAS: Lapangan di kompleks Tugu Pahlawan Surabaya.
DARI ATAS: Lapangan di kompleks Tugu Pahlawan Surabaya.


RADAR SURABAYA - Pegiat sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengungkapkan, kawasan Lapangan Tugu Pahlawan memiliki peran penting dalam sejarah awal Surabaya.

Kawasan tersebut pada masa lampau dikenal sebagai alun-alun, yang menjadi orientasi awal keberadaan pusat pemerintahan klasik Surabaya.

“Lapangan Tugu Pahlawan dulunya adalah alun-alun. Di sinilah orientasi awal satu kawasan sebagai pusat pemerintahan klasik Surabaya,” kata Nanang, Minggu (28/12).

Ia menjelaskan, di sekitar alun-alun tersebut pernah berdiri kediaman bupati pPertama Surabaya yang dikenal sebagai Eerst Regent Wooning atau Kasepuhan, serta kediaman bupati kedua yang disebut Twee Regent Wooning atau Kanoman.

Keberadaan dua pusat kekuasaan ini menegaskan pentingnya kawasan alun-alun sebagai jantung pemerintahan pada masanya.

Nanang juga mengungkapkan, di tengah alun-alun dahulu terdapat jalan setapak yang kemudian berkembang menjadi jalan umum dan dilalui kendaraan bertenaga hewan hingga kendaraan bermotor.

Jalan tersebut dikenal sebagai Jalan Alun-Alun atau Alun Alun Straat, yang kini bernama Jalan Pahlawan.

“Jalan Pahlawan yang membujur dari utara ke selatan itu dulunya membelah tengah lapangan alun-alun. Ini menunjukkan bahwa alun-alun Surabaya pada masa lalu sangat luas,” ujarnya.

Menurut Nanang, Alun Alun Straat juga merupakan bagian dari Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels yang menghubungkan Anyer di Jawa Barat hingga Panarukan di Jawa Timur.

Bahkan, lahan tempat berdirinya kantor gubernuran saat ini diyakini merupakan bagian dari lapangan alun-alun tersebut.

Berdasarkan peta Surabaya tahun 1677, kawasan di sebelah timur alun-alun pernah menjadi lokasi Kediaman Bupati Kanoman.

Di wilayah ini pula terdapat kawasan Sulung, yang dalam legenda peta kuno disebut sebagai situs tempat tinggal para pangeran sebelum era Mataram.

“Kawasan Sulung merupakan situs kuno tempat tinggal para pangeran. Reruntuhannya bahkan pernah dimanfaatkan sebagai benteng pertahanan Trunojoyo,” jelas Nanang.

Di sebelah selatan Sulung terdapat Jalan Pasar Besar, yang menjadi penanda adanya aktivitas pasar pada masa itu.

Sementara itu, di sebelah selatan lapangan alun-alun, tepatnya di kawasan Jalan Tembaan hingga Kampung Kawatan, terdapat kompleks makam kuno dengan tata ruang yang dihubungkan oleh regol atau pintu paduraksa.

“Model gapura paduraksa ini mengingatkan kita pada gapura di kompleks Sunan Ampel. Logisnya dulu ada tiga gapura, namun kini hanya tersisa dua. Salah satunya adalah gapura menuju zona inti makam Pangeran Pekik,” tuturnya.

Pangeran Pekik sendiri dikenal sebagai putra Adipati Jayalengkara, Adipati Surapringga atau Surabaya, yang kemudian menggantikan ayahandanya memerintah wilayah tersebut.

Makam Pangeran Pekik hingga kini masih dapat dijumpai di Jalan Tembaan.

Nanang menambahkan, pada sisi barat alun-alun berdasarkan ilustrasi peta kuno, pernah berdiri sebuah masjid yang berorientasi timur-barat, dengan lapangan alun-alun di sisi timurnya sebagai halaman masjid.

Sementara di bagian utara alun-alun terdapat kediaman Bupati Kasepuhan yang lokasinya kini berada di sekitar Kantor Pos.

“Dengan kondisi sekarang, kita bisa membayangkan betapa luasnya alun-alun Surapringga yang berbentuk persegi panjang itu,” katanya.

Sebagai penanda sejarah, nama Jalan Kebon Rojo yang ada saat ini dulunya dikenal sebagai Regentstraat atau Jalan Bupati, sekaligus kawasan taman indah.

Bahkan pada masa kolonial, lahan yang kini menjadi Kantor Bank Indonesia pernah berfungsi sebagai taman kota atau Stadsplein.

“Setelah memahami orientasi pusat pemerintahan klasik Surabaya, barulah kita bisa menelusuri jejak sejarahnya hingga ke kawasan makam kuno di Jalan Tembaan,” pungkas Nanang. (mus/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#klasik #Kota Surabaya #Alun alun #bupati #Tugu Pahlawan #pemerintahan #kawasan #lapangan #kanoman #sulung #Gubernuran