RADAR SURABAYA - Di tengah hiruk-pikuk Jalan Gentengkali Surabaya yang tak pernah benar-benar tidur, berdiri sebuah bangunan tua yang kini dikenal sebagai Gedung Cak Durasim.
Banyak orang mengenalnya sebagai rumah bagi seni dan kebudayaan Jawa Timur. Namun, tak banyak yang tahu bahwa gedung ini pernah menjadi pusat kekuasaan lokal Surabaya pada akhir abad ke-18.
Nur Setiawan, pegiat sejarah kota, menyebut kawasan itu dulunya merupakan lokasi penting dalam dinamika politik Surabaya pada masa kolonial.
Ia menuturkan bahwa sekitar akhir tahun 1700-an hingga awal 1800-an, kantor kadipaten Surabaya sempat berpindah dari kawasan Kebon Rojo, bekas area keraton, ke daerah Gentengkali.
“Perpindahan itu terjadi karena hubungan antara para priyayi Surabaya dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda sedang meruncing,” jelasnya.
Ketegangan politik tersebut membuat pemerintahan lokal perlu mencari ruang baru untuk beroperasi, dan Gentengkali dipilih sebagai pusat kendali yang lebih aman.
Di lokasi itu, berdirilah rumah dinas Adipati Surabaya lengkap dengan pendoponya.
Para sesepuh kota mengenal kompleks tersebut sebagai Pendopo Kanoman.
Dari sinilah roda pemerintahan lokal Surabaya pernah digerakkan: tempat priyayi bertemu,
kebijakan diperdebatkan, dan arah kota ditentukan.
Namun, dinamika kala itu tak pernah sederhana. Menurut Nur Setiawan, sebagian priyayi memilih mendukung kebijakan pemerintah kolonial, sementara sebagian lainnya tetap kukuh menolak.
“Gejolak antar pemangku kebijakan saling bersinggungan dan beku di tengah jalan,” tuturnya.
Waktu perlahan bergeser. Kekuasaan berubah. Fungsi gedung pun ikut berganti.
Bekas rumah dinas Adipati dan pendopo kadipaten itu kemudian melewati banyak fase hingga akhirnya ditetapkan sebagai pusat kegiatan budaya di bawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Kini, Gedung Cak Durasim bukan lagi arena intrik politik, melainkan ruang hidup bagi seni tradisi, tempat seniman berlatih, budaya dirayakan, dan identitas Jawa Timur dijaga.
Di balik gemerlap panggungnya, berdiri sejarah panjang yang senyap namun tetap mengakar, mengingatkan Surabaya bahwa setiap sudut kotanya menyimpan kisah yang tak pernah benar-benar hilang. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa