RADAR SURABAYA - Nama-nama pelabuhan besar di Indonesia seperti Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Perak di Surabaya, dan Tanjung Emas di Semarang bukanlah hasil penamaan acak.
Kata “Tanjung” yang mengawali nama-nama pelabuhan tersebut memiliki makna geografis dan historis yang erat kaitannya dengan strategi maritim dan perdagangan sejak era kolonial.
Pemilihan lokasi pelabuhan di wilayah tanjung bukan hanya karena bentuk daratannya yang menjorok ke laut, tetapi juga karena pertimbangan teknis dan ekonomi yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Geografis dan Sejarah
Secara geografis, “tanjung” adalah bentuk daratan yang menjorok ke laut, biasanya berbentuk sempit dan memanjang.
Lokasi ini sangat strategis untuk pelabuhan karena memiliki akses langsung ke jalur pelayaran, perairan yang relatif dalam, dan terlindung dari gelombang besar.
Dalam konteks maritim, tanjung menjadi titik ideal untuk membangun dermaga, gudang logistik, dan pusat bongkar muat barang.
Penggunaan kata “Tanjung” dalam penamaan pelabuhan juga mencerminkan warisan kolonial Belanda yang membangun pelabuhan-pelabuhan utama di titik-titik tanjung sebagai pusat perdagangan dan logistik.
Belanda, melalui VOC dan kemudian pemerintah Hindia Belanda, memilih lokasi-lokasi tanjung untuk memudahkan ekspor komoditas seperti rempah-rempah, kopi, dan gula ke Eropa.
Tanjung Priok – Jakarta
Pelabuhan Tanjung Priok dibangun pada tahun 1877 dan mulai beroperasi pada 1883. Sebelumnya, pelabuhan utama di Batavia berada di muara
Sungai Ciliwung, namun kapal-kapal besar kesulitan bersandar karena kedalaman air yang dangkal. Gubernur Jenderal Johan Wilhelm van Lansberge memutuskan membangun pelabuhan baru di wilayah tanjung yang lebih dalam dan strategis.
Nama “Priok” berasal dari nama kampung nelayan setempat. Hingga kini, Tanjung Priok menjadi pelabuhan tersibuk di Indonesia dan pintu utama ekspor-impor nasional.
Tanjung Perak – Surabaya
Pelabuhan Tanjung Perak mulai beroperasi pada awal abad ke-20 dan berkembang pesat setelah kemerdekaan. Lokasinya di utara Surabaya menjadikannya pelabuhan utama untuk wilayah Jawa Timur dan Indonesia bagian timur.
Nama “Perak” berasal dari Sungai Perak yang mengalir ke pelabuhan, sementara “Tanjung” merujuk pada posisi geografisnya yang menjorok ke Laut Jawa.
Sungai tersebut adalah Kalimas, dimana kala itu warna air sungai saat terkena sinar matahari menyerupai emas atau perak. Pelabuhan ini menjadi pusat distribusi barang dan logistik penting bagi industri di Jawa Timur.
Tanjung Emas – Semarang
Pelabuhan Tanjung Emas dibangun di wilayah pesisir Semarang yang juga merupakan tanjung kecil.
Sejak era VOC, Semarang telah menjadi pusat perdagangan penting di pesisir utara Jawa.
Nama “Emas” dipilih sebagai simbol harapan akan kemakmuran dan nilai strategis pelabuhan tersebut.
Pelabuhan ini melayani ekspor komoditas dari Jawa Tengah dan menjadi simpul penting dalam jaringan logistik nasional.
Tanjung Tembaga - Probolinggo
Pelabuhan Tanjung Tembaga di Probolinggo merupakan salah satu pelabuhan bersejarah di Jawa Timur yang berdiri sejak era kolonial Belanda pada tahun 1920.
Awalnya berstatus pelabuhan pantai, kini berkembang menjadi pelabuhan laut yang terbuka untuk perdagangan internasional.
Penggunaan kata “Tanjung” dalam penamaan pelabuhan-pelabuhan besar di Indonesia bukan sekadar penanda lokasi, tetapi mencerminkan strategi geografis dan sejarah kolonial yang telah membentuk wajah maritim Indonesia.
Wilayah tanjung dipilih karena keunggulan alamnya dalam mendukung aktivitas pelayaran, perdagangan, dan logistik.
Dari Tanjung Priok hingga Tanjung Emas, pelabuhan-pelabuhan ini tidak hanya menjadi simpul perdagangan, tetapi juga saksi perjalanan panjang Indonesia dalam membangun konektivitas laut dan ekonomi nasional. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari