RADAR SURABAYA - Bangunan Balai Pemuda yang berada di kawasan area Komplek Alun-Alun Kota Surabaya, merupakan salah satu bangunan bersejarah yang terawat dengan baik.
Saat ini Balai Pemuda merupakan pusat kegiatan seni dan budaya yang dilengkapi dengan fasilitas publik serta area terbuka yang luas.
Menurut pegiat sejarah kota Surabaya, Nur Setiawan, bangunan peninggalan zaman Belanda tersebut dulunya adalah markas dari Pemuda Republik Indonesia (PRI).
"Pada tahun 1945 Balai Pemuda adalah markas dari PRI yang merupakan barisan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia," kata Nur Setiawan.
Sehingga dari sejarah tersebut, akhirnya bangunan ini dinamakan Balai Pemuda.
"Karena menyimpan semangat kepemudaan dalam menjaga marwah dan kedaulatan Republik Indonesia," jelasnya.
Pria yang akrab disapa Wawan tersebut menjelaskan, pada era kolonial Balai Pemuda bernama Simpangsche Societeit.
Yang saat menjadi tempat bagi orang-orang Belanda untuk berpesta.
"Kala itu di dalam komplek Simpangsche Societeit terdapat restoran, bar, tempat pertunjukan musik hingga galeri, yang memang fungsinya agar orang-orang kulit putih terhibur," ujar Wawan.
Simpangsche societeit mulai dibangun pada tahun 1907, dengan beberapa bangunan yang mempunyai fungsi masing-masing.
Terutama untuk kebutuhan entertainment masyarakat Hindia Belanda yang tinggal di kota Surabaya.
Saat ini Balai Pemuda menjadi pusat kegiatan masyarakat, mulai dari kegiatan budaya seperti pertunjukan seni dan musik, hingga pertemuan umum dan kegiatan komunitas. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa