Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jejak “Stasiun Semut” Surabaya: Riuh Kota Lama yang Tak Pernah Padam

Dimas Mahendra • Kamis, 20 November 2025 | 14:51 WIB

 

SEJARAH: Stasiun Semut yang menjadi nama lain dari Stasiun Surabaya Kota, berlokasi di tengah permukiman, pasar, dermaga dan tangsi militer di era Hindia Belanda.
SEJARAH: Stasiun Semut yang menjadi nama lain dari Stasiun Surabaya Kota, berlokasi di tengah permukiman, pasar, dermaga dan tangsi militer di era Hindia Belanda.

RADAR SURABAYA - Di tepian Kalimas, di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan panjang Surabaya, berdirilah sebuah stasiun kecil yang namanya justru jauh lebih populer daripada nama resminya.

Orang menyebutnya Stasiun Semut, sebuah julukan yang begitu akrab di telinga warga Kota Pahlawan, namun kerap memunculkan pertanyaan: mengapa “Semut”?

Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, pada abad ke-19 kawasan di sekitar Stasiun Semut itu tercatat dalam peta lama sebagai Kwidjilang atau Sambongan.

Di wilayah inilah, sekitar awal 1800-an, pemerintah kolonial Belanda membangun barak militer yang dikenal dengan nama Tangsi Sambongan.

Seiring berkembangnya kota dan meningkatnya arus perdagangan di Kalimas, sebuah stasiun kereta api didirikan pada 1870-an.

Namanya adalah Stasiun Surabaya Kota. Letaknya yang berdampingan dengan pusat aktivitas lain seperti, pasar, dermaga, permukiman Pecinan, serta tangsi militer, menjadikan kawasan ini salah satu titik paling sibuk di Surabaya tempo dulu.

“Pengambilan nama ‘Semut’ kemungkinan karena aktivitas di sana yang sangat ramai dan sibuk,” kata Nur Setiawan.

Pria yang akrab disapa Wawan itu menambahkan, aktivitas sosial dan ekonomi yang tak pernah berhenti membuat warga memberi julukan spontan yakni Stasiun Semut.

Nama itu kemudian melekat begitu kuat hingga melampaui nama aslinya. Bahkan, seiring waktu, julukan ini diadopsi menjadi nama kampung di sekitar kawasan sisi timur Kalimas.

“Pasar, Kalimas, kampung Pecinan, tangsi militer, dan stasiun berada dalam satu kawasan. Hiruk-pikuknya seperti semut yang terus beraktivitas,” imbuhnya.

Kini, Stasiun Semut tidak lagi sepadat masa kolonial. Namun, jejak sejarah yang membentuk denyut kawasan itu tetap tertinggal di setiap sudutnya.

Dari riuh para kuli panggul di dermaga Kalimas hingga kereta-kereta yang pernah mengangkut komoditas dan manusia, semuanya menyisakan cerita tentang kota yang tak pernah berhenti bergerak. (dim/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Stasiun Surabaya Kota #Surabayapedia #stasiun semut #kota pahlawan #Radar Surabaya #kalimas #sejarah