RADAR SURABAYA - Kawasan di sekitar Stasiun Gubeng Surabaya pada masa lalu merupakan area permukiman bagi warga Eropa.
Bahkan, bangunan Hotel Sahid yang berada di samping Stasiun Gubeng Lama, dulunya adalah sebuah rumah milik orang Belanda.
“Belanda sejak dulu sudah memprediksi bahwa kawasan Gubeng akan berkembang pesat. Karena itulah permukiman orang Eropa banyak berada di sekitar Gubeng, terutama di sisi Stasiun Gubeng. Peningkatan pengangkutan hasil bumi menjadi angkutan penumpang turut mendorong naiknya status stasiun,” ujar pengamat sejarah Handinoto.
Sementara itu, fasilitas logistik atau kargo juga mulai dibangun setelah Stasiun Gubeng resmi ditetapkan sebagai stasiun angkutan penumpang kelas 1, 2, dan 3.
“Sebenarnya sejak dulu pengangkutan logistik sudah ada, tetapi penempatannya masih di peron. Karena adanya perubahan kebutuhan dan perkembangan zaman, akhirnya dibangun area khusus untuk logistik,” tuturnya.
Handinoto yang juga anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Surabaya menjelaskan, perbaikan stasiun oleh perusahaan Staatsspoorwegen (SS) dilakukan karena Pemerintah Hindia Belanda melihat potensi pertumbuhan pesat kawasan Gubeng.
“Para insinyur di perusahaan SS dikerahkan untuk melakukan perbaikan gedung dan bangunan di kawasan Gubeng, tentu tanpa mengubah bentuk bangunan lamanya,” katanya.
Pengembangan besar-besaran dilakukan pada tahun 1928 dan 1930, seiring peningkatan status Stasiun Gubeng sebagai stasiun yang melayani penumpang kelas 1, 2, dan 3. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa