RADAR SURABAYA - Keberadaan pabrik bir di Jalan Ratna Surabaya, yang kini menjadi Gedung AJBS, menyimpan sejarah panjang. Meskipun berkembang pesat dengan tiga produk unggulan, yaitu Java Bier, Java Donker, dan Java Bock, Heineken's Nederlands Indische Bierbrouwerij Maatschappij (HNIBM) mengalami pertentangan dari berbagai kalangan masyarakat, terutama yang memiliki kepentingan politik.
Pengamat sejarah dari Universitas Airlangga, Ikhsan Rosyid, mengungkapkan bahwa pertentangan terhadap produksi pabrik bir tersebut lebih didasari oleh kepentingan politik, bukan perspektif agama.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Gaungkan Semangat Rembug–Nyekrup di Rakor Forkopimda Jatim, Minta Waspada Peredaran Narkoba
"Toh, minuman keras (alkohol, Red) juga sudah ada sejak sebelum pabrik bir dibangun di Surabaya. Termasuk minuman keras lokal jenis ciu, arak, dan lain sebagainya," ujar Ikhsan.
Ikhsan menegaskan bahwa tidak ada kepentingan agama yang mendasari penentangan terhadap pabrik bir di Jalan Ratna, Ngagel. Meskipun Islam mulai berkembang di Surabaya pada masa itu, tidak ada penolakan signifikan dari masyarakat terkait pendirian pabrik bir.
"Mungkin berbeda jika dibandingkan dengan kondisi sekarang," imbuhnya.
Kepentingan politik yang dimaksud Ikhsan adalah isu kesehatan. Minuman beralkohol dianggap dapat merusak kesehatan dan bukan merupakan identitas Indonesia, karena konsumsi minuman beralkohol identik dengan budaya Eropa.
Baca Juga: Kuota Haji Jawa Timur 2026 Bertambah Jadi 42.409, Antrean Lebih Cepat
Kepentingan politik tersebut digunakan sebagai senjata untuk melakukan pengembosan terhadap produksi bir. Namun, taktik tersebut tidak berhasil. Ikhsan menyebutkan bahwa perusahaan HNIBM tidak menanggapi pertentangan tersebut.
"Nyatanya, perusahaan masih tetap jalan dan berkembang. Bahkan, tahun 1933 justru membuat merek baru Java Donker dan Java Bock. Karena perusahaan tidak pernah menanggapi pertentangan tersebut," terangnya.
Selain itu, bir selalu menjadi suguhan dalam setiap pesta rakyat. "Ketika memperingati ulang tahun ratu Belanda Wilhelmina, bir produk HNIBM menjadi salah satu menu yang dijual," tutur Ikhsan.
Pabrik bir ini didirikan pada tahun 1929. Lokasi pabrik dipilih karena berdekatan dengan sungai Jagir Wonokromo dan jalur kereta api Stasiun Wonokromo yang menghubungkan Stasiun Gubeng. (*)