RADAR SURABAYA - Stasiun Wonokromo Kota merupakan salah satu stasiun trem uap milik Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS) yang pernah beroperasi dan ada di wilayah Sawunggaling, Wonokromo Surabaya.
Stasiun ini menjadi stasiun utama trem uap di Kota Pahlawan menggantikan Stasiun Grudo.
Selain terdapat stasiun di kawasan Sawunggaling Wonokromo terdapat bangunan depo induk, bengkel dan bangunan gudang OJS.
Pemerhati Sejarah Kereta Api Navy Eka Pattiruhu mengatakan, Stasiun Wonokromo Kota awalnya halte trem Wonokromo. Halte tersebut sudah ada sejak tahun 1890.
"Kemudian menjadi stasiun utama itu mulai tahun 1916. Waktu jalur trem uap diputuskan dibelokkan ke Jalan Diponegoro. Karena sebelumnya Diponegoro nggak ada jalan (jalur trem)," ujarnya kepada Radar Surabaya, Rabu (5/11).
Dijelaskan Navy, kawasan Wonokromo dibuka pada tahun 1911.
Pembukaan kawasan tersebut seiring rencana elektrifikasi trem di Surabaya.
"Stasiun ini mulai dibuka tahun 1916. Jadi tidak lagi lewat Darmo Kali, tidak lagi lewat Keputran, tidak lagi lewat Kaliasin, Basuki Rahmat. Tidak lagi lewat Tunjungan, trem uap itu. Kemudian digeser ke Jalan Diponegoro, jadi ada jalur baru," ucapnya.
Navy melanjutkan, jalur baru trem uap tersebut dari Stasiun Wonokromo Kota, Jalan Diponegoro, Pasar Kembang, Jalan Arjuno, Jalan Semarang, Kebonrojo hingga sampai Ujung.
"Jalur baru dari Wonokromo kota sampai dengan Kebon Rojo. Kebon Rojo tahun 1889 sampai dengan Ujung jalur lamanya. Kebonrojo Wonokromo kota tahun 1916 berikut stasiun," bebernya.
Stasiun Wonokromo Kota beroperasi hingga tahun 1978. Stasiun Wonokromo Kota bangunannya cukup besar dan menggunakan rangka baja dan dilengkapi beberapa fasilitas pendukung.
"Berhenti total tahun 1978. Ini stasiun utama atau stasiun sentral OJS statusnya," ucapnya.
Stasiun ini dahulu menjadi stasiun sibuk setiap harinya digunakan naik atau turun penumpang trem yang hendak ke tengah kota, pelabuhan maupun keluar kota.
Kini bangunan utama bekas stasiun Wonokromo Kota tersebut masih ada bangunanya. Namun fungsinya sudah berubah dan dipetak-petak menjadi tempat tinggal. (rus)
Editor : Nofilawati Anisa