Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mengenal Ikan Gelodok, Spesies Unik yang Bisa Berjalan dan Bernapas di Darat

Muhammad Firman Syah • Kamis, 30 Oktober 2025 | 19:17 WIB
Ikan gelodok (mudskipper) tampak meloncat di area berlumpur hutan mangrove.
Ikan gelodok (mudskipper) tampak meloncat di area berlumpur hutan mangrove.

Radar Surabaya – Saat sebagian besar ikan tak bisa hidup tanpa air, seekor ikan kecil penghuni hutan mangrove justru lebih senang meloncat di lumpur ketimbang berenang. Ia mampu berjalan di atas daratan, bahkan memanjat akar bakau yang licin. Ikan itu dikenal sebagai ikan gelodok, atau disebut juga tembakul, timpakul, hingga mudskipper.

Sekilas, wujudnya tampak seperti ikan biasa. Namun, gerakannya menakjubkan. Ia dapat berjalan, melompat sejauh hampir 60 sentimeter, dan bertahan hidup berjam-jam di darat.

Fenomena ini bukan keajaiban, melainkan hasil adaptasi biologis yang luar biasa. Gelodok menjadi bukti betapa alam mampu menyeimbangkan kehidupan di batas antara air dan darat.

Ikan gelodok mendiami kawasan pasang surut dan daerah berlumpur di sekitar hutan mangrove, tempat air laut dan air tawar bertemu. Lingkungan ekstrem ini memiliki kadar oksigen rendah, suhu yang berubah cepat, serta permukaan lumpur yang tebal. Namun, di habitat sulit inilah gelodok justru berkembang pesat.

Populasinya tersebar luas dari pesisir Indo-Pasifik hingga Afrika. Di Indonesia, ikan ini banyak ditemukan di Kalimantan, Sumatera, Maluku, dan pesisir Jawa. Saat air surut, gelodok keluar dari sarangnya, berjalan atau melompat di atas tanah mencari serangga, udang kecil, dan larva. Ketika pasang naik, mereka berlindung di dalam lubang-lubang lumpur yang digali sendiri.

Lubang tersebut berbentuk bercabang menyerupai huruf J atau U dan memiliki ruang berisi air serta udara. Fungsinya beragam, tempat berlindung dari predator, cadangan oksigen ketika air menutupi permukaan, sekaligus lokasi bertelur. Seekor betina dapat menghasilkan hingga 70 ribu butir telur dalam satu musim, sementara jantan berjaga hingga telur menetas.

Tubuh ikan gelodok berbentuk bulat panjang menyerupai torpedo, dengan panjang antara 7 hingga 30 sentimeter. Kulitnya berwarna kecoklatan dengan bintik-bintik biru atau keperakan.

Dua sirip punggungnya tampak seperti kipas, sementara ekornya kuat dan membulat. Namun, daya tarik sesungguhnya terletak pada sirip dada dan matanya yang unik.

Sepasang mata gelodok menonjol di atas kepala menyerupai mata katak. Kedua bola matanya dapat bergerak independen, memungkinkan penglihatan ke kiri dan kanan secara bersamaan, bahkan berputar hingga 360 derajat.

Letak mata di atas kepala memberinya keuntungan evolutif, mampu mengintai mangsa dan musuh meski sebagian tubuh masih terendam air, layaknya periskop kapal selam.

Kemampuan gelodok berjalan di darat merupakan hasil adaptasi anatomi dan fisiologi yang menakjubkan.

Sirip yang Berfungsi Seperti Kaki

Sirip dada atau pektoral gelodok memiliki otot besar bernama adductor superficialis yang terbagi dua, dorsal dan ventral. Bagian dorsal menebal dan menyatu dengan jari-jari sirip ventral, membentuk sendi lentur yang berfungsi layaknya lengan. Dengan sistem ini, gelodok dapat menopang tubuhnya di lumpur dan bergerak seperti manusia yang menggunakan kruk.

Saat memanjat akar bakau, sirip ventral di perut berfungsi sebagai penopang. Sirip ini menekan tanah untuk menciptakan gaya dorong, sementara sirip dada menarik tubuh ke atas. Kombinasi keduanya memungkinkan ikan ini berjalan, meloncat, bahkan memanjat pohon.

Pernapasan Ganda di Dua Alam

Gelodok bernapas melalui tiga mekanisme sekaligus. Pertama, melalui insang yang memiliki rongga besar untuk menjebak air dan menjaga kelembapan. Kedua, melalui kulit yang kaya pembuluh kapiler. Ketiga, melalui lapisan lendir di mulut dan kerongkongan.

Berkat sistem ini, gelodok dapat bertahan di darat selama 7–8 menit tanpa kembali ke air. Dalam kondisi lembap, beberapa spesies bahkan hidup berjam-jam di luar air. Namun, begitu tubuhnya mulai kering, ia segera kembali menyelam untuk membasahi kulit dan mengisi ulang oksigen di rongga insangnya.

Evolusi Mata dan Mekanisme Berkedip

Gelodok dikenal sebagai satu-satunya ikan yang mampu berkedip. Ketika di darat, ia menarik matanya ke dalam rongga berisi air untuk melembapkan kornea, mekanisme yang mirip dengan hewan darat. Adaptasi ini menjadikannya “model hidup” bagi ilmuwan yang meneliti proses evolusi dari kehidupan air menuju darat.

Mata gelodok juga memiliki dua lapisan kornea yang melindungi bola mata dari kekeringan, membuatnya mampu menatap udara tropis dalam waktu lama tanpa kehilangan penglihatan.

Peran Ekologis dan Nilai Ekonomi

Gelodok menghabiskan sekitar 90 persen hidupnya di luar air. Ia senang berjemur di lumpur, berguling untuk menjaga kelembapan, dan melompat mencari mangsa kecil. Masyarakat Banjar di Kalimantan menyebutnya ikan timpakul, dari kata “malas”, karena sering terlihat berdiam lama di lumpur. Padahal, perilaku itu merupakan strategi adaptasi untuk menjaga suhu dan kelembapan tubuh.

Dalam ekosistem mangrove, gelodok memiliki peran penting sebagai pengendali populasi serangga dan krustasea kecil, sekaligus menjadi sumber makanan bagi burung dan kepiting besar. Kehadirannya menandakan kondisi ekosistem mangrove yang sehat.

Meski di Indonesia sering dianggap ikan liar atau dijadikan pakan ternak, di Jepang, Korea, dan China, gelodok justru menjadi menu mahal di restoran. Dagingnya mengandung protein tinggi, sekitar 18–58 persen, serta asam amino taurine yang bermanfaat bagi otak, jantung, dan metabolisme tubuh.

Di sejumlah daerah di Kalimantan, ikan ini juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi asma, rematik, dan gangguan pencernaan.

Gelodok merupakan simbol ketangguhan dan kemampuan beradaptasi. Ia bukan sekadar ikan aneh, tetapi hasil evolusi jutaan tahun. Kemampuannya berjalan, memanjat, berkedip, dan bernapas di dua alam menunjukkan bahwa kehidupan selalu menemukan cara untuk bertahan.

Di tengah lumpur yang sunyi, ikan kecil ini mengajarkan satu hal sederhana, keuletan, bukan kekuatan, adalah kunci bertahan hidup di dunia yang terus berubah. (wid/fir)

Editor : M Firman Syah
#berlumpur #spesies unik #ikan #melompat #Hutan Mangrove