Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Aksara Jawa Jejak Kebanggaan Surabaya: Mulai Uang Benggol, Rokok Kretek hingga Kopi Bubuk

Mus Purmadani • Minggu, 26 Oktober 2025 | 11:28 WIB
SEJARAH: Aksara Jawa di bungkus rokok Dji Sam Soe keluaran PT HM Sampoerna.
SEJARAH: Aksara Jawa di bungkus rokok Dji Sam Soe keluaran PT HM Sampoerna.

RADAR SURABAYA - Aksara Jawa dan Pegon pernah hidup dan bahkan menjadi bagian penting dari identitas kota Surabaya di masa lalu.

Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nanang Purwono, menegaskan, aksara daerah bukan berarti aksara ndeso atau katrok.

Sebaliknya, katanya, aksara daerah adalah bagian dari khazanah kebudayaan dan sejarah literasi bangsa yang bernilai tinggi.

“Aksara Daerah adalah aksara tradisional yang bukan aksara Latin. Ia adalah wujud peradaban yang tumbuh dari kearifan lokal,” ujar Nanang, Sabtu (25/10).

Tidak banyak yang tahu, pada awal abad ke-19, saat pemerintahan Inggris berkuasa di Hindia Belanda, aksara Jawa dan Pegon sempat ditetapkan sebagai aksara resmi. Bukti otentiknya ada pada mata uang logam yang beredar kala itu.

Nama Surabaya ketika itu dikenal dengan sebutan Surapringga, dan pada keping logam tersebut tertulis dua aksara Jawa dan Pegon.

Hal ini menunjukkan betapa kuatnya kedudukan aksara lokal dalam aktivitas ekonomi dan pemerintahan.

Hingga pertengahan abad ke-20, tepatnya sekitar tahun 1940-an, aksara Jawa dan Pegon masih digunakan di berbagai medium.

Salah satunya pada uang benggol yang bertuliskan nilai Saparapat Puluh Rupiyah (seperempat puluh rupiah), dengan tambahan tulisan Nederlanddsch Indie.

Di masa yang sama, aksara Jawa dan Pegon juga tercetak di kemasan rokok legendaris Dji Sam Soe—produk kretek asal Surabaya yang lahir dari tangan Liem Seeng Tee, seorang imigran asal Fujian, Tiongkok.

Liem bersama istrinya, Siem Tjiang Nio, mulai merintis usaha rokok di kawasan Ngaglik, Surabaya, pada tahun 1912. Produknya dijajakan menggunakan sepeda.

Setahun kemudian, usaha ini bertransformasi menjadi Handel Maatschappij Liem Seeng Tee, yang kemudian melahirkan merek Dji Sam Soe angka 234 yang jika dijumlahkan menjadi sembilan, angka keberuntungan Liem.

“Kemasan Dji Sam Soe yang menggunakan aksara Jawa dan Pegon telah menjadi simbol lintas budaya. Ada Latin, Hanzi, dan aksara lokal berdampingan,” ungkap Nanang.

Bahkan, logo Wang dalam Hanzi, yang berarti raja, menjadi lambang kebanggaan perusahaan.

Pada desain kemasan tersebut tertulis pula Pabrik Rokok Liem Seeng Tee dalam Latin, Sigaret Kretek Liem Seeng Tee dalam aksara Jawa dan Pegon sebuah harmoni visual tiga peradaban yang berpadu di Surabaya.

Bukan hanya rokok. Jejak aksara Jawa dan Pegon juga tampak pada kemasan Kopi Bubuk Murni Berontoseno produksi Kediri yang populer di pasaran Surabaya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pada masa itu, penggunaan aksara tradisional bukan hanya soal bahasa, tapi juga strategi kebudayaan dan pemasaran.

Kini, tren penggunaan aksara daerah kembali menggeliat, terutama di kalangan pelaku UMKM. Beberapa produk seperti minuman herbal beras kencur mulai menampilkan aksara Jawa dalam kemasannya—sebuah bentuk kebanggaan baru yang berakar dari sejarah panjang Surabaya.

Kehadiran aksara tradisional di ruang publik kini semakin relevan dengan Raperda Pemajuan Kebudayaan yang sedang digodok oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Dalam rancangan peraturan daerah tersebut, aksara daerah masuk sebagai salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).

Langkah ini menjadi angin segar bagi pelestarian aksara Jawa dan Pegon di Surabaya. Sebab, pelestarian tidak hanya berarti mengenang masa lalu, tetapi juga menghidupkan kembali identitas yang pernah menjadi kebanggaan warga kota.

“Surabaya punya sejarah besar dalam literasi lokal. Sudah saatnya aksara daerah kembali hadir, bukan sebagai hiasan, tapi sebagai identitas,” pungkasnya. (mus)

Editor : Nofilawati Anisa
#jawa #uang benggol #surabaya #rokok kretek #brontoseno #hm sampoerna #Kopi Bubuk #aksara #pegon