RADAR SURABAYA - Di tengah hiruk-pikuk Jalan Tidar Surabaya, berdiri megah sebuah bangunan tua bergaya kolonial yang bagi sebagian orang mungkin tampak seperti sekolah biasa.
Namun di balik tembok kokohnya, Gedung Don Bosco menyimpan kisah sejarah panjang, kisah tentang masa penjajahan, perang, dan penyamaran militer yang nyaris terlupakan.
Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, mengisahkan bahwa Gedung Don Bosco awalnya dibangun pada era kolonial Belanda sekitar tahun 1930-an.
Saat itu, fungsinya bukan sekadar sekolah, melainkan juga asrama dan panti asuhan bagi anak-anak Katolik di Surabaya.
“Awalnya gedung Don Bosco didirikan sebagai asrama panti asuhan dan sekolahan bagi anak-anak Katolik di Surabaya. Gedung ini dibangun sekitar tahun 1930-an saat masa kolonial Belanda, yang terletak di daerah Sawahan atau yang sekarang kita kenal dengan nama Jalan Tidar,” terang Nur Setiawan.
Namun, masa damai itu tidak berlangsung lama. Ketika Jepang menduduki Surabaya pada 1942, Don Bosco berubah wajah.
Anak-anak panti asuhan dievakuasi, sekolah ditutup, dan bangunan itu kemudian diambil alih oleh tentara Jepang.
“Peralihan fungsi gedung ini terjadi pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942–45. Tentara Jepang mengevakuasi puluhan anak panti asuhan serta menutup sekolah tersebut. Setelah itu, gedung Don Bosco dijadikan markas militer,” ungkap pria yang akrab disapa Wawan.
Tak berhenti di situ, Don Bosco ternyata menyimpan rahasia besar. Di bawah kendali kesatuan militer Kaisutiro Butai, gedung itu bukan hanya dijadikan markas, tetapi juga gudang senjata dan amunisi penting Jepang di kawasan Asia Timur Raya.
“Pemilihan gedung Don Bosco sebagai gudang amunisi bukan tanpa sebab. Tentara Jepang menjadikannya kamuflase, sehingga intelijen asing mengira bahwa Don Bosco hanya markas biasa, padahal sebenarnya menjadi pusat logistik perang,” jelasnya.
Kini, Don Bosco berdiri tenang, menjadi saksi bisu betapa sebuah bangunan pendidikan pernah beralih fungsi menjadi markas perang.
Jejak masa lalu itu masih tersisa di dinding dan arsitekturnya, seolah ingin mengingatkan warga Surabaya bahwa setiap sudut kota punya ceritanya sendiri, bahkan di balik gedung yang tampak biasa sekalipun. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa