Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kecoak Bisa Tahan Radiasi Ribuan Kali Lipat dari Manusia, Ini Alasannya

Muhammad Firman Syah • Jumat, 17 Oktober 2025 | 20:46 WIB
Kecoak dikenal tahan radiasi karena selnya jarang membelah dan punya enzim perbaikan DNA, membuatnya bisa hidup di kondisi ekstrem.
Kecoak dikenal tahan radiasi karena selnya jarang membelah dan punya enzim perbaikan DNA, membuatnya bisa hidup di kondisi ekstrem.

Radar Surabaya – Di balik reputasinya yang kerap membuat orang bergidik, kecoak ternyata menyimpan daya tahan hidup luar biasa. Serangga ini dikenal mampu bertahan dalam kondisi ekstrem, bahkan di lingkungan dengan tingkat radiasi tinggi. Fenomena tersebut memunculkan mitos bahwa kecoak bisa tetap hidup setelah ledakan nuklir.

Anggapan tentang ketangguhan kecoak bermula dari kisah pasca perang di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945. Beberapa laporan kala itu menyebutkan adanya kecoak yang masih hidup di area terdampak bom atom. Cerita tersebut kemudian berkembang menjadi keyakinan bahwa kecoak kebal terhadap radiasi.

Penelitian ilmiah membuktikan bahwa klaim tersebut tidak sepenuhnya salah. Hasil uji laboratorium menunjukkan kecoak memang jauh lebih tahan terhadap radiasi dibanding manusia, meski bukan berarti mereka benar-benar kebal.

Riset yang dilakukan oleh Discovery Channel bersama lembaga riset radiasi di Jepang menemukan bahwa kecoak mampu bertahan pada dosis hingga 1.000 rad, sedangkan manusia bisa meninggal jika terpapar 100–200 rad. Namun, pada dosis di atas 10.000 rad, kecoak tetap akan mati.

Ketahanan luar biasa kecoak bersumber dari struktur tubuhnya yang sederhana dan metabolisme yang lambat. Eksoskeleton yang keras berfungsi melindungi jaringan dalam dari kerusakan fisik maupun paparan radiasi.

Efek radiasi paling fatal biasanya terjadi pada sel yang aktif membelah. Tubuh manusia memiliki jaringan yang terus beregenerasi, seperti kulit dan sumsum tulang, sehingga lebih rentan terhadap kerusakan DNA. Sebaliknya, sel-sel kecoak hanya membelah sekitar sekali dalam dua minggu, memberi waktu bagi tubuh mereka untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi.

Ahli entomologi dari Tokyo University, Dr. Taro Iwasaki, menjelaskan bahwa kemampuan regenerasi ini menjadi kunci daya tahan kecoak.

“Kemampuan ini membuat kecoak memiliki waktu lebih panjang untuk memperbaiki sel yang rusak sebelum pembelahan berikutnya,” katanya. Ia menambahkan, beberapa spesies kecoak juga memiliki enzim perbaikan DNA yang sangat efisien.

Secara sederhana, mekanisme ketahanan kecoak terhadap radiasi berlangsung melalui beberapa tahap biologis yang saling berkesinambungan. Pada tahap pertama, saat terjadi paparan awal, DNA dalam sel kecoak mengalami kerusakan akibat proses ionisasi radiasi.

Selanjutnya, tubuh kecoak memberikan reaksi perlindungan melalui eksoskeleton dan cairan tubuh yang kaya lipid, yang berfungsi menyerap sebagian paparan radiasi agar tidak merusak jaringan dalam.

Setelah itu, tahap perbaikan DNA berlangsung, di mana enzim seperti DNA ligase dan endonuklease bekerja memperbaiki rantai DNA yang rusak akibat radiasi.

Tahap terakhir adalah pemulihan metabolik, ketika kecoak memanfaatkan metabolisme tubuhnya yang lambat untuk memberi waktu cukup dalam memperbaiki sel sebelum proses pembelahan berikutnya terjadi.

Proses ini menunjukkan bahwa daya tahan kecoak bukan berasal dari kekebalan mutlak, melainkan dari mekanisme biologis yang efisien dalam memperbaiki diri.

Kecoak bukan satu-satunya serangga yang memiliki ketahanan terhadap radiasi. Lalat buah (Drosophila melanogaster) dan kumbang biji (Callosobruchus maculatus) juga menunjukkan kemampuan serupa. Ketiganya memiliki metabolisme rendah dan struktur sel sederhana, menjadikan mereka subjek penting dalam penelitian bioteknologi dan biologi evolusi.

Meski daya tahannya luar biasa, mitos kecoak yang bisa hidup setelah ledakan nuklir adalah berlebihan. Ledakan bom atom menghasilkan panas dan tekanan tinggi yang memusnahkan seluruh organisme di sekitarnya. Namun, dalam area yang hanya terdampak radiasi sisa tanpa suhu ekstrem, kecoak memang memiliki peluang hidup lebih besar dibanding spesies lain.

Fosil menunjukkan bahwa kecoak telah hidup di Bumi selama 350 juta tahun, jauh sebelum dinosaurus. Kemampuan beradaptasi terhadap kondisi ekstrem menjadikan kecoak sebagai salah satu spesies paling sukses dalam sejarah evolusi.

Kini kecoak tidak hanya dikenal sebagai hama rumah tangga, tetapi juga objek penelitian ilmiah. Para ilmuwan meneliti enzim perbaikan DNA dan struktur genetik kecoak untuk memahami mekanisme ketahanan terhadap radiasi dan stres seluler.

Beberapa studi bioteknologi bahkan meneliti potensi penggunaan enzim tersebut dalam pengembangan terapi kanker, khususnya dalam perbaikan DNA sel yang rusak akibat radiasi pengobatan.

Ketahanan kecoak menjadi simbol adaptasi dan evolusi. Selama ratusan juta tahun, spesies ini bertahan melewati berbagai kondisi ekstrem yang memusnahkan makhluk lain.

Dari kecoak, manusia dapat belajar bahwa ketahanan hidup bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi dan beregenerasi terhadap perubahan lingkungan. (wid/fir)

Editor : M Firman Syah
#kecoak #Lalat buah #daya tahan #radiasi #serangga