RADAR SURABAYA - Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangku Alam II Yogyakarta melakukan kunjungan ke Surabaya untuk bertemu dengan tokoh-tokoh penggerak budaya Surabaya. Tujuannya adalah untuk menelusuri jejak Kadipaten Surabaya, yang menurutnya merupakan kekayaan nusantara yang penting bagi identitas kota itu sendiri.
KGPAA Mangku Alam II menjelaskan bahwa keberadaan kerajaan, kesultanan, dan lembaga adat di Indonesia mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah bangsa. Namun, ia mengingatkan agar tidak membayangkan kerajaan-kerajaan saat ini seperti Kerajaan Mataram di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
"Ada lho raja, yang keberadaan sosial ekonominya sebagai tukang tambal ban dan lapaknya saja masih menyewa," ujarnya, Minggu (12/10).
Menurut KGPAA Mangku Alam II, Surabaya pernah memiliki sistem pemerintahan Kadipaten yang kuat dan mandiri sebelum akhirnya jatuh ke tangan Mataram pada tahun 1625 di bawah kepemimpinan Adipati Jayalengkara. Dari data historis inilah, ia ingin melacak kembali jejak Kadipaten Surabaya.
Harapan ini disambut baik oleh para pemerhati sejarah dan budaya di Surabaya. Penelusuran ini diharapkan dapat menjadi penyemangat untuk pelestarian budaya tradisional, peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat adat, dan penguatan identitas bangsa di tengah arus globalisasi.
Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, mengatakan bahwa Surabaya tidak hanya beridentitas sebagai pemerintahan kota, tetapi juga pernah menjadi pemerintahan kabupaten dan kadipaten. "Bukti-bukti Surabaya sebagai bentuk pemerintahan klasik masih ada seperti kuburan para bupati dan bekas kantor pemerintahannya," ujar Nanang.
Sementara itu pegiat budaya A. Hermas Thony menambahkan pentingnya masyarakat Surabaya memahami sejarah ini. "Ini fakta data berdasarkan peta lama Surabaya bahwa komplek alun-alun tertulis pada peta itu," katanya.
Ia juga menjelaskan upayanya dalam pelestarian Aksara Jawa di Surabaya, termasuk usulan memasukkan Aksara Jawa dalam Raperda Pemajuan Kebudayaan, Kejuangan dan Kepahlawanan Surabaya.
"Bagaimana kita bisa memajukan manuskrip sebagai salah satu dari 10 OPK, yang tertulis dalam aksara daerah, jika tidak mengerti aksara daerah seperti aksara Jawa itu sendiri," pungkasnya. (rmt/gun)
Editor : Guntur Irianto