Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Inilah Alasan Komodo Dijuluki The Last Dragon on Earth

Muhammad Firman Syah • Selasa, 23 September 2025 | 15:25 WIB
Penampakan Komodo, Sang Naga Terakhir di Bumi, memancarkan pesona purbanya.
Penampakan Komodo, Sang Naga Terakhir di Bumi, memancarkan pesona purbanya.

Radar Surabaya – Di tengah savana kering dan bukit kapur di Nusa Tenggara Timur, reptil raksasa dengan tubuh sepanjang hingga tiga meter bergerak perlahan. Kulit bersisik kecokelatan dan lidah bercabang yang menjulur membuat komodo (Varanus komodoensis) dijuluki "naga terakhir di bumi".

Komodo bukan hanya ikon wisata Indonesia, melainkan saksi hidup dari perjalanan evolusi jutaan tahun. Fosil purba menunjukkan nenek moyangnya pernah menghuni wilayah luas, termasuk Australia, sebelum akhirnya bertahan di gugusan pulau kecil, Komodo, Rinca, Gili Motang, Nusa Kode dan sebagian Flores.

Jejak Purba dan Isolasi Alam

Sejarah komodo dapat ditelusuri hingga 3,8 juta tahun lalu. Fosil dari Australia mengungkap bahwa spesies ini pernah mendominasi daratan luas. Perubahan iklim, pergeseran permukaan laut dan aktivitas tektonik membuat mereka terisolasi di pulau-pulau kecil, membentuk komodo sebagai predator puncak. Analisis DNA juga membuktikan adanya perbedaan genetik di tiap populasi, menandakan variasi unik dari satu leluhur purba.

Predator Tangguh namun Rentan

Komodo dikenal sebagai pemburu sabar. Ia menunggu mangsanya lengah, lalu menyerang dengan gigitan kuat dan air liur beracun yang melumpuhkan rusa hingga kerbau. Namun, anak-anak komodo sering harus berlindung di atas pohon agar tidak dimangsa sesamanya. Dalam kondisi tertentu, betina bahkan mampu bereproduksi tanpa pejantan melalui partenogenesis.

Populasi Terbatas di Pulau Kecil

Saat ini, jumlah komodo hanya berkisar 3.000–5.000 ekor. Pulau Komodo dan Rinca menjadi habitat utama, disertai penyebaran kecil di pulau lain dan sebagian Flores. Lingkungan hidupnya meliputi savana terbuka yang berpadu dengan hutan tropis kering. Bagi masyarakat lokal, komodo yang juga disebut “ora” atau “buaya darat” telah menjadi bagian dari budaya dan cerita rakyat.

Ancaman Iklim dan Aktivitas Manusia

Meski bertahan jutaan tahun, komodo kini berstatus terancam punah (Endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Kenaikan suhu global dan permukaan laut diperkirakan memangkas sepertiga habitat mereka dalam empat dekade ke depan. Selain itu, pariwisata masif, alih fungsi lahan, kebakaran hutan, dan perburuan liar semakin mempersempit ruang hidup komodo.

Upaya Konservasi “Naga Nusantara”

Perlindungan komodo dimulai sejak 1915 saat pemerintah Hindia Belanda menetapkannya sebagai spesies dilindungi. Pada 1980, Indonesia mendirikan Taman Nasional Komodo yang kini diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia.

Konservasi modern menekankan pentingnya menjaga keragaman genetik di setiap pulau agar spesies tetap beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Bagi dunia, komodo adalah fosil hidup yang masih bertahan. Bagi Indonesia, ia simbol kekayaan alam yang tak tergantikan. Tanpa langkah serius menghadapi perubahan iklim dan tekanan manusia, “naga terakhir” ini berisiko benar-benar hilang dari bumi. (wid/fir)

Editor : M Firman Syah
#NTT #varanus komodoensis #komodo #reptil