RADAR SURABAYA - Lonceng atau genta sudah banyak digunakan di Surabaya pada era kolonial. Di Surabaya lonceng kuno bisa dijumpai di beberapa tempat.
Di antaranya Mapolsek Bubutan, makam kerhormatan Belanda Kembang Kuning, sekolah Trimurti, gereja Jawi Wetan Gubeng dan beberapa tempat lainnya.
Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengatakan dalam peradaban kuno penggunaan lonceng atau genta sudah lekat dengan kehidupan manusia.
Lonceng sendiri mempunyai beragam fungsi. Mulai sebagai alarm (penanda) hingga alat untuk keperluan spiritual.
"Penggunaan lonceng tersebut berfungsi sebagai alarm (penanda) pengingat waktu, seperti dimulainya sebuah upacara, waktu istirahat hingga tanda bahaya jika terjadi sesuatu yang sifatnya mengancam keselamatan jiwa," ucap pria yang akrab disapa Wawan.
Wawan menambahkan, Mapolsek Bubutan yang merupakan kantor kepolisian tua di Kota Pahlawan sudah ada sejak era kolonial, tentunya juga mempunyai lonceng sebagai piranti penting kala itu.
"Lonceng ini berfungsi sebagai alarm waktu apel anggota kepolisian, waktu pergantian shift hingga tanda panggilan darurat," tuturnya.
Menurutnya, peran lonceng saat ini mulai tergantikan oleh peralatan yang lebih mutakhir.
Di masa lalu pabrik kontruksi besi juga memproduksi lonceng sebagai alat yang sangat erat hubungannya dengan manusia, termasuk untuk kebutuhan manufaktur.
"Seperti di industri perkapalan alat yang mempunyai bunyi nyaring tersebut sebagai simbol komunikasi penting yang tidak dapat dipisahkan. Di Polrestabes juga ada lonceng kuno yang dipajang di museum Hoofdbureau," bebernya.
Sementara Kanit Reskrim Polsek Bubutan Ipda Martinus Simanjuntak menuturkan keberadaan lonceng di Mapolsek Bubutan masih digunakan hingga saat ini.
"Lonceng dibunyikan pagi pukul 07.00 untuk apel pagi dan pukul 20.00 untuk apel malam," sebutnya. (rus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa