RADAR SURABAYA - Gang sempit di Kampung Lawas Maspati, Surabaya, menyimpan kisah seorang tokoh yang lekat dalam ingatan warga lewat cerita tutur.
Ia adalah Raden Sumomiharjo, seorang ningrat Jawa yang pernah berkiprah sebagai carik di kantor Kadipaten Ponorogo pada awal abad ke-20.
Tak berhenti di situ, R. Sumomiharjo juga dikenal sebagai seorang mantri kesehatan yang bekerja membantu dokter berdarah Belanda.
Ketika wabah malaria melanda, ia menjadi salah satu orang Bumiputera yang berada di garda depan.
Kepiawaiannya dalam menangani penyakit akibat nyamuk membuatnya dijuluki warga sebagai “mantri nyamuk.”
“Ia sangat dihormati warga karena jasanya saat mengabdikan diri dalam menggeluti bidang kemanusiaan pada masa lalu,” tutur pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan yang akrab disapa Wawan.
Pada masa akhir hidupnya, sang mantri memilih bermukim di Maspati Gang 6.
Ia menempati sebuah rumah berarsitektur kolonial yang hingga kini masih berdiri, meski kosong tak berpenghuni.
Bangunan tua itu kini seolah menjadi saksi bisu pengabdian seorang tokoh lokal yang menorehkan jasa besar bagi kemanusiaan.
“Sayang sekali rumahnya sekarang hanya menyisakan sunyi. Tapi bagi warga sekitar, sosok beliau tetap hidup dalam ingatan,” tambah Wawan.
Meski kisah hidup Raden Sumomiharjo tidak sezaman dengan era kekeratonan Surabaya, jejaknya di Maspati menjadi bagian penting dari mosaik sejarah kota.
Sebuah pengingat bahwa kampung-kampung lama di Surabaya bukan sekadar deretan rumah tua, melainkan ruang yang merekam cerita perjuangan, pengabdian, dan kemanusiaan. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa