RADAR SURABAYA - Memperhatikan peta lama Surabaya, kawasan Pandegiling adalah lahan hijau agraris.
Ini terbukti bahwa di kawasan Pandegiling dulunya pernah ada kebun tebu untuk menyuplai pabrik gula, yang pernah berdiri di sekitarnya.
"Sehingga diduga kuat bahwa lahan agraris Pandegiling ini berupa lahan perkebunan tebu," ujar Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono, Minggu (7/9/2025).
Nira adalah cairan manis yang diperoleh dari batang tanaman seperti tebu, kelapa, aren, dan tanaman dari keluarga palma, yang merupakan bahan baku utama untuk membuat gula dan minuman manis.
"Bisa diduga bahwa di kawasan Pandegiling pada zaman dahulu banyak warga setempat, yang pekerjaannya membuat gilingan tebu untuk produksi gula. Bisa dibayangkan, dibutuhkan banyak gilingan tebu agar bisa menghasilkan nira sebagai bahan pembuatan gula atau pemanis. Maka konsekuensinya diperlukan banyak orang pembuat gilingan," terangnya.
Menurut Nanang, tidak berarti bahwa banyak orang yang membuat alat giling.
Tapi diduga di sana banyak warga, yang aktivitasnya menggiling tebu yang kemudian hasilnya (nira) disetorkan ke pabrik gula.
"Bisa jadi pabrik gula ini masih tradisional karena alat penggilingan berupa hasil buatan warga lokal. Yaitu berupa alat giling yang terbuat dari sepasang batu andesit berbentuk silinder, yang digerakkan oleh tenaga binatang (sapi atau kerbau). Jadi bukan pabrik gula, yang sudah menggunakan peralatan mesin seperti mesin tenaga uap, yang menggerakkan roda roda gila untuk menggiling dan memeras tebu," katanya.
Kawasan Pandegiling Surabaya pada masa lalu didukung oleh adanya stasiun trem Groedo.
"Keberadaan angkutan rel ini menunjukkan pernah adanya potensi ekonomi, yang tidak lain adalah gula. Itulah mengapa kawasan Pandegiling pada lama Surabaya terarsir warna hijau. Hijau berarti kawasan perkebunan yang subur dan ekonomis," pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa