RADAR SURABAYA - Riuh kesibukan kawasan Kalisosok, Surabaya Utara, dengan hiruk-pikuk pedagang, pekerja pabrik, dan lalu-lalang warga, seakan menyimpan rahasia yang tak banyak diketahui.
Di balik gang sempit, menyelinap di tengah rumah-rumah padat, terdapat sebuah jejak kekunoan tokoh yang dikeramatkan yakni Pesarehan Mbah Mulud.
Makam berukuran mungil, sekitar 4 x 5 meter ini, berdiri bersahaja dengan musala kecil di sampingnya. Letaknya di Jalan Kebalen Barat, tak jauh dari Museum Sampoerna.
Cukup bertanya kepada warga sekitar, siapa Mbah Mulud, hampir semua akan menunjuk jalan menuju pesarehan itu.
Menurut pegiat sejarah kota Surabaya, Nur Setiawan, Mbah Mulud atau yang juga dikenal sebagai Mbah Gondomono dan Kyai Tambak Gringsing, merupakan tokoh penyebar Islam di kawasan pesisir Surabaya tempo dulu, mulai Pesapen, Kebalen, Dapuan, hingga Kalisosok.
Saat itu wilayah ini masih berupa rawa-rawa tepian laut, dengan penduduk yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.
“Mbah Mulud adalah pamong di daerah ini. Beliau yang membimbing warga, sekaligus tokoh agama yang dihormati,” tutur pria yang akrab disapa Wawan itu.
Hingga kini, setiap hari-hari tertentu, warga masih berziarah ke makamnya.
Mereka berdoa bersama, memanjatkan syukur atas rezeki yang diterima, sembari mengenang jasa sang tokoh.
Pesarehan Mbah Mulud bukan hanya makam tua, tetapi juga pengingat akan sejarah kampung lawas Surabaya yang tetap hidup di tengah modernisasi.
"Semoga jejak-jejak kekunoan di kampung Surabaya tetap lestari. Agar warga tidak lupa dengan sejarah maupun muasal kampungnya, meski modernisasi berkembang pesat," pungkasnya. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa