RADAR SURABAYA - Surabaya pernah memiliki mata uang logam beraksara Jawa.
Mata uang itu diproduksi era kepemimpinan Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda (1808-1811).
Pegiat sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan sebagaimana dikutip dari Oud Soerabaia (GH von Faber), pembuatan mata uang logam itu pernah diproduksi di sebuah gereja di Stad van Soerabaia.
"Diduga gereja itu adalah gereja Protestan pertama, yang letaknya di bagian dari gedung Internatio di kawasan Jembatan Merah," jelasnya.
Menurut Nanang, setelah Daendels, berkuasalah Jan Willem Janssens mulai 15 Mei 1811 – 18 September 1811.
Willem Janssens lahir di Nijmegen, Belanda, sebuah kota kuno di dekat perbatasan Belanda – Jerman.
Willem Janssens memulai tugas di Hindia Belanda ketika kawasan terkait dalam kondisi genting, di bawah serangan Inggris.
Banyak prajurit tinggalan Daendels, yang tidak cakap menjadi prajurit, sehingga mudah dikalahkan Inggris dan terpaksa menyerah pada tanggal 18 September 1811 kepada Thomas Stamford Raffles.
"Mengawali pemerintahan Inggris di Hindia Belanda (1811-1816), adalah Gilbert Elliot-Murray-Kynynmound, 1st Earl of Minto atau Lord Minto, yang berkuasa. Kala itu Surabaya menjadi jejak penting di Hindia Belanda baik sebagai kota pertahanan, maupun sebagai kota perdagangan dan bisnis," terangnya.
Pentingnya kota Surabaya, lanjut Nanang, ditandai dengan diproduksinya mata uang sejak dari era Gubernur Jendral Daendels.
Inggris melanjutkan potensi kota itu. Di antaranya adalah memproduksi mata uang.
"Salah mata uang itu beraksara Jawa dan Pegon (Arab gundul). Mata uangnya berupa Dirham. Pada kedua sisi mata uang ini dengan jelas tertulis angka tahun," katanya.
"Mata uang adalah alat dan simbol supremasi kekuasaan. Jika mata uang dirham Inggris sudah ada di Surabaya dan dengan adanya nama Surapringga, maka diduga itu menjadi pertanda kehadiran kekuasaan Inggris di Surabaya. Yakni menunjukkan kekuasaannya secara ekonomi," pungkas Nanang. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa