RADAR SURABAYA – Tak banyak warga Surabaya yang tahu, di balik riuh Pelabuhan Tanjung Perak pernah berdiri sebuah bangunan mewah bernama Societeit Modderlust.
Tempat ini bukan sekadar bar tempat para pelaut meneguk minuman, melainkan juga ruang berkumpul, berdiskusi, bahkan menyusun strategi bagi Angkatan Laut Hindia Belanda.
Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, menuturkan bahwa kisah Modderlust bermula dari sebuah kedai bambu sederhana milik seorang Bumiputera bernama Ardjo pada paruh abad ke-19.
“Awalnya hanya warung kecil di tepi pelabuhan, menjual minuman biasa hingga bir dan anggur. Para pelaut Belanda sering nongkrong di sana selepas dinas,” ungkap Wawan, sapaan akrabnya.
Seiring waktu, kedai Ardjo makin ramai. Dari hanya gubuk bambu, bangunan itu direnovasi menjadi rumah kayu berukuran besar.
"Yang datang tak hanya pelaut kelas bawah namun juga para perwira," ujarnya.
Kemudian pada tahun 1865 diambil alih Marine Etablissement dan disulap menjadi gedung bergaya Eropa dengan dinding kokoh.
Dari sinilah lahir Societeit Modderlust, ikon hiburan sekaligus pertemuan para perwira angkatan laut.
Tak berhenti di sana, perjalanan gedung ini juga merekam babak-babak sejarah besar. Pada 1942, Jepang menduduki Surabaya dan menjadikan Modderlust sebagai tempat serupa, ruang berkumpul dan diskusi militer.
Hingga akhirnya, pasca kekalahan Jepang, gedung tersebut direbut oleh BKR Laut pada September 1945 dan dipakai sebagai markas perjuangan Republik.
“Dari sebuah kedai bambu hingga markas perjuangan, Modderlust mencerminkan bagaimana Surabaya selalu jadi ruang penting bagi sejarah maritim dan perlawanan bangsa,” tutur Wawan.
Untuk mengenang momen itu, sebuah tugu peringatan didirikan di lokasi bekas Modderlust.
Kini, meski bangunannya tak lagi megah seperti dahulu, kisahnya tetap menjadi jejak penting dalam sejarah Kota Pahlawan. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa