Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tahun 1848 Masjid Kemayoran Surabaya Sudah Alami Perluasan

Mus Purmadani • Selasa, 12 Agustus 2025 | 21:20 WIB
PINGGIR JALAN: Nama asli Masjid Kemayoran adalah Masjid Raudhatul Musyawarah.
PINGGIR JALAN: Nama asli Masjid Kemayoran adalah Masjid Raudhatul Musyawarah.

RADAR SURABAYA - Masjid Kemayoran terletak di Jalan Indrapura Surabaya.

Sesungguhnya masjid ini bernama Masjid Raudhatul Musyawarah.

Karena berdiri di lingkungan Kemayoran, maka disebutlah Masjid Kemayoran.

Menurut Pengurus Masjid Kemayoran, Gus Yani, nama Raudhatul Musyawarah ini sebagaimana terukir dalam aksara Arab pada gerbang lama masjid yang menghadap ke Timur, yang sekarang berada di dalam masjid.

Sementara gerbang baru masjid yang berada di luar menghadap ke Selatan ke arah jalan Indrapura.

“Gerbang lama masjid dengan tulisan Raudlatul Musyawarah ini dilengkapi dengan angka tahun pembangunan sebagai bentuk perluasan masjid yaitu 1935,” katanya.

Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, sebagaimana diberitakan oleh koran Soerabaiasche Handelsblad bahwa pembangunan perluasan ini adalah setelah 86 tahun pembangunan masjid induk.

Yaitu pada 1848, sebagaimana tertulis pada prasasti tembaga beraksara Jawa dengan angka tahun 1772 Jawa. Tahun 1772 Saka ditambah 86 adalah 1848 M.

“Prasasti beraksara Jawa ini memiliki ukuran bingkai hampir 2 meter dan lebar sekitar 80 cm. Di dalam bingkai terdapat tulisan beraksara Jawa yang terbuat dari tembaga yang klem pada lembar tembaga,” ujarnya.

Bunyi dari prasasti ini adalah mengenai pemberian pemerintah Hindia Belanda kepada segenap umat Islam di Surapringga (Surabaya).

Masjid ini didirikan atas nama pemerintah mulai dari pemerintah pusat Hindia Belanda, pemerintah karesidenan Surabaya hingga pemerintah Kabupaten Surabaya.

“Kala itu Surabaya masih bernama Surapringga. Dalam prasasti ini nama Surapringga disebut dua kali: Karesidenan Surapringga dan Nagari Surapringga,” jelasnya.

Prasasti ini nyata-nyata sebagai bukti resmi pemberian pemerintah Hindia Belanda sebagaimana tersebut dalam prasasti kepada bangsa (umat) Islam.

Pemberian ini adalah pemberian dengan sungguh sungguh (tulus dan ikhlas) kepada umat Islam Surapringga.

“Dalam prasasti dituliskan “punika sih p?eparingipun Kanjeng Gubernemen Londo dumateng sarupining bangsa Islam”. Ada penekanan pada kata “p?eparingipun” dengan kata “sih”, “Punika sih p?eparingipun…,” jelas Nanang. (mus/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Bentuk #Perluasan #pembangunan #jalan indrapura #masjid kemayoran surabaya #prasasti #sejarah