Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Surabaya Pernah Jadi Kota Teosofi, Jejaknya Ada di Jalan Tunjungan

Dimas Mahendra • Selasa, 22 Juli 2025 | 18:04 WIB

 

MEGAH: Potret Gedung Loge De Vriendschap kini jadi gedung BPN di Surabaya yang menjadi penanda bahwa Surabaya pernah menjadi kota teosofi.
MEGAH: Potret Gedung Loge De Vriendschap kini jadi gedung BPN di Surabaya yang menjadi penanda bahwa Surabaya pernah menjadi kota teosofi.

RADAR SURABAYA - Tak banyak yang tahu bahwa di balik gemerlap Jalan Tunjungan, terdapat jejak sejarah global yang melekat erat pada bangunan tua yang pernah menjadi pusat aktivitas organisasi elite dunia Freemasonry.

Gedung itu dikenal dengan nama Loge de Vriendschap, atau dalam sebutan masyarakat masa lampau, Gedung Loji. Gedung yang sama, saat ini menjadi Gedung BPN.

Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, menyebut bahwa Kota Pahlawan di masa kolonial dikenal sebagai salah satu kota teosofi di Hindia Belanda.

Istilah tersebut mengacu pada keberadaan dan aktivitas organisasi Freemason—perhimpunan yang mewadahi kaum intelektual, pejabat tinggi, pengusaha, dan ningrat kolonial Belanda.

“Surabaya juga bisa dikatakan sebagai kota teosofi, terbukti dengan berdirinya Loge de Vriendschap di Jalan Tunjungan. Masyarakat dulu menyebutnya Gedung Loji,” jelas Wawan, sapaan akrabnya.

Bangunan bergaya neo-klasik ini dibangun sejak awal abad ke-19 pada masa Gubernur Jenderal Daendels.

Kepemilikan awalnya tercatat atas nama Jacobus Albertus van Middelkop, salah satu tokoh penting di masa VOC.

Dari sinilah aktivitas intelektual dan spiritual lintas benua berlangsung, menjadikan Surabaya bagian dari jaringan pemikiran global di masa kolonial.

“Perkumpulan Vriendschap itu isinya kalangan elite. Di situ digelar diskusi, dialog, hingga praktik-praktik spiritual,” imbuh Wawan.

Namun seiring bergulirnya waktu, organisasi ini menghadapi penolakan politik.

Presiden Soekarno sempat melarang aktivitas Freemasonry karena dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai budaya lokal.

Meski begitu, bangunan yang menjadi saksi sejarah ini tetap berdiri, dan kini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Menariknya, menurut Wawan, dulunya ada beberapa gedung loge di Surabaya.

Namun kini hanya tersisa dua yang masih bisa dikenali bentuk dan fungsinya sebagai jejak masa lalu.

“Yang tersisa hanya dua. Dan itu jadi bukti bahwa Surabaya pernah menjadi bagian penting dari pergerakan pemikiran dunia,” tutupnya. (dim/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Surabayapedia #freemansori #penting #jalan tunjungan #Logi #hindia belanda #Tokoh #kolonial #teosofi