RADAR SURABAYA - Jika menyebut kuliner khas Kota Pahlawan, tak lengkap rasanya tanpa membicarakan lontong balap.
Makanan yang satu ini sudah melegenda di kalangan masyarakat Surabaya dan sekitarnya.
Berbeda dengan semanggi yang berasal dari ujung barat kota, lontong balap justru diyakini berasal dari kawasan selatan Surabaya.
Menurut penggiat sejarah Surabaya Nur Setiawan nama lontong balap memiliki sejarah unik yang berkaitan dengan cara berjualan para pedagang pada masa lampau.
Konon, dulu para penjual menjajakan dagangannya dengan cara dipikul dan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.
Mereka berlomba-lomba menempati lokasi strategis demi menarik perhatian pembeli.
Siapa yang lebih cepat menempati tempat jualan, maka peluang dagangannya laris lebih besar.
"Dari kebiasaan itulah muncul istilah balapan, dan akhirnya makanan ini dikenal dengan nama lontong balap," ujar pria yang akrab disapa Wawan ini.
Ia menambahkan meski namanya terdengar seperti ajang perlombaan, bahan-bahan lontong balap justru sangat sederhana.
Hidangan ini terdiri dari lontong, kecambah (tauge), kuah gurih, serta pelengkap utama yang disebut lentho sebuah gorengan berbahan dasar kacang tolo atau kacang hijau yang ditumbuk dan digoreng.
Lontong balap kerap disajikan bersama sambal petis dan kecap, memberikan cita rasa khas perpaduan manis, gurih, dan sedikit pedas.
"Keunikan rasa serta nilai historisnya menjadikan lontong balap sebagai salah satu ikon kuliner tradisional Surabaya," imbuh Wawan.
Meski zaman terus berubah dan para pedagang tak lagi perlu berlari-lari menempati tempat dagangannya, namun nama lontong balap tetap lestari sebagai simbol semangat dan kearifan lokal warga Surabaya dalam berdagang dan mempertahankan budaya kuliner. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa