RADAR SURABAYA - Sebuah kisah menarik terungkap dari balik megahnya Hotel Bumi yang ssebelumnya bernama Hyatt Regency Surabaya.
Di lokasi yang kini berdiri bangunan modern tersebut, tersimpan jejak peradaban Hindu-Buddha yang kini telah sirna.
Hal ini terungkap dari penuturan Tri Priyo Wijoyo, seorang pemerhati sejarah klasik Surabaya, yang baru-baru ini berkesempatan berdiskusi dengan warga setempat di kampung Kedondong, yang dulunya dikenal sebagai Karang Bulak.
"Seminggu lalu saya berkesempatan bertemu dengan beberapa sesepuh kampung Kedondong," ujar Tri Priyo Wijoyo kepada Radar Surabaya.
Dari penuturan warga yang menceritakan kisah menarik tentang kampung mereka yang kini telah menyatu dengan kampung Kedondong.
Dahulu, tempat ini dikenal sebagai Karang Bulak, dan di tengah kampung terdapat sebuah gumuk atau gundukan tanah yang ditumbuhi pohon beringin besar.
"Menurut para sesepuh yang telah berusia lanjut tersebut, gumuk tersebut menyimpan misteri. Ketika tanah itu digali untuk pembangunan Hotel Bumi beberapa dekade lalu, ditemukan sejumlah artefak berupa serpihan batu bata kuno dan bebatuan andesit," jelasnya.
Temuan ini mengindikasikan adanya struktur bangunan kuno yang kemungkinan besar merupakan peninggalan peradaban Hindu-Buddha.
"Sayangnya, karena pembangunan hotel, jejak peradaban berharga ini hilang ditelan waktu," imbuhnya.
Ia menyebut tidak ada dokumentasi yang tercatat secara resmi mengenai temuan tersebut.
"Ini menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk lebih menghargai dan melestarikan situs-situs sejarah, betapapun kecilnya," jelasnya.
Kehilangan situs sejarah ini menjadi sorotan penting. Ketiadaan dokumentasi dan penelitian lebih lanjut membuat kita kehilangan kesempatan untuk memahami lebih dalam sejarah Surabaya.
Para ahli sejarah berharap agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk melindungi dan melestarikan warisan budaya yang masih tersisa.
"Kita harus lebih peduli terhadap sejarah kota kita. Semoga kisah Karang Bulak ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih menghargai dan melindungi warisan budaya yang ada," harapnya.
Ia berharap agar ke depannya, setiap pembangunan infrastruktur di Surabaya memperhatikan aspek pelestarian sejarah dan budaya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari