RADAR SURABAYA - Pasca Proklamasi Kemerdekaan, Kota Surabaya membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) di bawah pimpinan Soengkono untuk menjaga keamanan.
Namun, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tak hanya dilakukan oleh BKR. R. Djarot Soebijantoro, seorang veteran pasukan Jibakutei atau pasukan berani mati di masa pendudukan Jepang.
Ia juga membentuk barisan penggempur yang terdiri dari mantan Jibakutei, Heiho, dan pemuda Surabaya.
Menurut pegiat sejarah Nur Setiawan, barisan ini kemudian resmi menjadi Batalyon Djarot pada 9 Desember 1945, dinamai sesuai komandannya. Pertempuran besar pun tak terelakkan.
"Pada 9 November 1945 pukul 14.00, Inggris mengultimatum Surabaya, sehingga TKR, termasuk Mayor Djarot, segera bersiap berperang pada pukul 17.00," ungkap Nur Setiawan yang akrab disapa Wawan.
Mayor Djarot memimpin pasukannya memperkuat pertahanan di Surabaya. Lebih dari itu, ia juga terlibat dalam strategi militer yang krusial.
"Mayor Djarot membawa dokumen rahasia berisi rencana penyusupan pasukan Republik di Surabaya dan kota-kota besar lainnya," terang Wawan. Dokumen ini bahkan sampai ke tangan Belanda.
Sebuah surat dari Menteri Departemen Luar Negeri Belanda, Maarseveen yang diperoleh Wawan menunjukkan instruksi agar semua operasi militer dihentikan sebelum 3 Agustus 1949.
Perjuangan Batalyon Djarot menjadi bukti nyata kegigihan mempertahankan kemerdekaan di Surabaya.
"Mayor Djarot membawa 65 pasukan untuk memastikan keberadaan pasukannya diakui secara sah saat gencatan senjata di Surabaya," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa