RADAR SURABAYA - Rujak cingur salah satu kuliner legendaris asal Surabaya, Jawa Timur, telah lama menjadi simbol cita rasa khas Kota Pahlawan.
Meski kelezatannya telah diakui secara luas, sejarah asal-usul makanan ini masih menyimpan banyak misteri.
Tidak ada catatan sejarah tertulis yang secara pasti menjelaskan kapan dan siapa pencipta pertama rujak cingur.
Namun, keberadaannya telah tercatat dalam Buku Mustika Rasa yang diterbitkan pada era 1960-an atas prakarsa Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.
Dalam buku tersebut, rujak cingur tercantum sebagai bagian dari kekayaan kuliner Nusantara yang perlu dilestarikan sebagai warisan budaya bangsa.
Menurut penggiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan atau yang akrab disapa Wawan, rujak cingur diyakini sudah ada sejak awal abad ke-20, sekitar tahun 1900-an.
Bahkan, ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa makanan berbahan dasar petis, sayuran rebus (kulupan), serta cingur atau moncong sapi ini telah dikenal masyarakat sebelum abad ke-19.
“Rujak cingur memang lahir di Surabaya, tetapi penciptanya diyakini adalah para perantau asal Madura yang sudah menetap cukup lama di kota ini,” ungkap Wawan.
Ia menambahkan bahwa karena Surabaya merupakan kota pelabuhan, perdagangan, dan industri, banyak perantau yang datang tanpa latar belakang pendidikan formal memilih jalur kreatif untuk bertahan hidup. Salah satunya melalui kreasi kuliner lokal.
Cita rasa rujak cingur yang unik — perpaduan rasa manis, gurih, asin, dan sedikit asam — menjadikannya sajian yang berbeda dari rujak pada umumnya.
Petis yang kental dan aromatik menjadi unsur khas, begitu juga dengan keberadaan cingur yang memberi sensasi kenyal dan gurih tersendiri.
Kini, rujak cingur tidak hanya dinikmati oleh warga Jawa Timur, tetapi juga menjadi sajian khas yang dicari wisatawan saat berkunjung ke Surabaya.
"Meski zaman terus berubah, rujak cingur tetap bertahan sebagai simbol kekayaan rasa dan sejarah panjang percampuran budaya di kota Pahlawan," pungkas Wawan. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa