RADAR SURABAYA - Bagi generasi 90-an di Surabaya, menonton film di bioskop mewah bukanlah hal yang lazim. Layar tancap dengan segala kekurangannya, seperti nyamuk dan gerimis, menjadi pilihan yang lebih merakyat.
Di tengah suasana itu, muncul sosok legendaris bernama Abah Loteng, yang namanya masih melekat di memori banyak orang kala itu.
Abah Loteng dikenal sebagai "bandar film biru" di Kampung Sawah Pulo, Surabaya Utara. Kampung yang padat penduduknya ini.
Menurut pegiat sejarah Nur Setiawan, memiliki kemiripan dengan Medellin, kampung halaman Pablo Escobar. Sawah Pulo kala itu memang dikenal cukup padat dan kompleks.
"Suasananya mungkin mirip dengan Medellin, yang juga terkenal dengan lingkungannya yang padat dan kompleks," ujar Nur.
Abah Loteng menyulap lantai atas rumahnya menjadi bioskop dadakan. Dengan tarif hanya 200-300 perak, penonton bisa menyaksikan film biru dengan durasi bervariasi, mulai dari setengah jam hingga satu jam. "Setiap malam, tempatnya selalu ramai," tuturnya.
Ia menyebut dengan ramainya layaknya bioskop menunjukkan betapa populernya Abah Loteng di kalangan anak muda saat itu.
"Mereka rela datang dari berbagai penjuru Surabaya, bahkan dari selatan, hanya untuk menonton film di tempat Abah Loteng," imbuhnya.
Pada masa itu, film-film tersebut masih diputar menggunakan kaset VHS dan Betamax. Namun, pamor Abah Loteng meredup seiring masuknya pemutar VCD murah asal Tiongkok.
"Abah Loteng menjadi bagian dari sejarah Surabaya," tutup Nur Setiawan.
Kisah Abah Loteng bukan sekadar tentang film biru, melainkan juga tentang sebuah fenomena sosial.
Menurut Nur, Abah Loteng mencerminkan bagaimana hiburan alternatif berkembang di tengah keterbatasan ekonomi dan akses pada hiburan modern. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari