RADAR SURABAYA - Setelah pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia, Surabaya langsung menyambut dengan menancapkan simbol-simbol kejuangan dan nilai nasionalisme alias cinta tanah air sebagai identitas bangsa.
Hal tersebut disampaikan pegiat sejarah Kota Surabaya Nanang Purwoko, Jumat (16/5).
"Hanya berselang tiga bulan saja dari Desember 1949 – Maret 1950, Surabaya memaknai nilai kejuangan dan kepahlawanan serta nasionalisme cinta tanah air. Wali Kota Doel Arnowo, yang menggagas pembangunan Tugu Pahlawan sebagai simbol nilai kejuangan. Juga perubahan nama-nama jalan yang asalnya bersifat kolonial menjadi nasional. Hal itu sebagai simbol nilai nasionalisme dan cinta tanah air," katanya.
Nanang menambahkan menurut literasi Disbudporapar Kota Surabaya bahwa ada dua pendapat mengenai siapa yang menjadi pemrakarsa, sekaligus arsitek monumen yang terletak di Jalan Pahlawan Surabaya ini.
Menurut Gatot Barnowo, monumen ini diprakarsai oleh Doel Arnowo, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Besar Surabaya.
Kemudian Doel Arnowo meminta Ir Tan untuk merancang gambar monumen yang dimaksud, untuk selanjutnya diajukan kepada Presiden Soekarno.
Sedangkan menurut Ir Soendjasmono, pemrakarsa monumen ini adalah Ir Soekarno sendiri.
Ide ini mendapat perhatian khusus dari Wali kota Surabaya, Doel Arnowo.
Untuk perencanaan dan gambarnya diserahkan kepada Ir R Soeratmoko, yang telah mengalahkan beberapa arsitek lainnya dalam sayembara untuk pemilihan arsitek untuk membangun monumen ini.
"Konstruksi dimulai pada 10 November 1951 dan selesai pada November 1952 lalu diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 10 November 1952," ujarnya.
Lebih lanjut Nanang mengatakan Surabaya juga masih mempertahankan local wisdom-nya seperti nama-nama daerah asli Surabaya seperti Jalan Darmo, Kayoon, Gubeng, Pandegiling, Dinoyo, Ketabang, Bubutan dan sebagainya.
"Surabaya boleh membangun dan maju, namun Surabaya tidak boleh lupa dengan tradisi dan budayanya. Surabaya berdiri di bumi Jawa, yang secara kultur memiliki dan kaya budaya. Salah satunya adalah aksara Jawa sebagai simbol kecerdasan dan intelektual tulis peradaban Jawa," ungkapnya.
Di Surabaya aksara sudah ada sejak zaman Sunan Ampel atau era Kerajaan Majapahit.
Dari sisi peninggalan artifek, memang terdapat benda benda arkeologi batu bertulis aksara Jawa.
Ada prasasti dan ada pula inskripsi bertulis aksara Jawa.
"Ini berarti masyarakat Surabaya di masa lalu dalam komunikasi tulis sudah menggunakan aksara Jawa. Maka akan bijaksana dan ramah budaya bila ada tulisan tulisan aksara Jawa," pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa