RADAR SURABAYA - Bantengan adalah salah satu kesenian pertunjukan rakyat Jawa Timur, yang gerakan tariannya meniru hewan banteng.
Kesenian ini adalah salah satu warisan leluhur, yang erat dengan budaya agraris.
Dalam setiap penampilannya, tidak hanya menonjolkan unsur sendratari, seni Bantengan juga menggabungkan olah kanuragan, musik, dan mantra.
Dimana pertunjukannya selalu dinanti dan bisa menghipnotis penonton.
Menurut pegiat sejarah, Nur Setiawan, budaya Bantengan sudah ada di Surabaya sekitar tahun 1960-an.
Kesenian budaya tersebut juga bukan merupakan kesenian asli Surabaya, melainkan dari Malang.
Ia menduga para perantau atau pedagang yang datang dari Malang inilah, yang membawa dan mengenalkan seni Bantengan pada masyarakat Surabaya.
"Surabaya sebagai kota industri dan pelabuhan tentunya banyak didatangi oleh para perantau, sehingga mereka yang berasal dari daerah tersebut mengenalkan budaya ini sebagai sarana hiburan bagi kelompok mereka sendiri maupun diundang untuk meramaikan sebuah hajatan," jelasnya.
Menurut beberapa ahli, seni Bantengan sudah ada sejak era klasik (zaman kerajaan).
Hal ini dikarenakan seni ini terdapat pada relief yang ada di Candi Jago, Malang.
Namun meskipun bukan kesenian asli Surabaya, Bantengan masih kerap ditemui ketika ada perayaan atau gelaran tradisi yang diadakan warga Kota Pahlawan.
Seperti acara Sedekah Bumi, Karnaval 17-an, perayaan hari-besar tertentu seni Bantengan sering ditampilkan sebagai seni budaya yg bisa dikatakan sakral.
"Menilik dari kemunculannya pada even-even tertentu, maka bisa dipastikan seni Bantengan masih lestari di kota Pahlawan. Meski seni ini bukan asli dari Surabaya," pungkas pria yang akrab disapa Wawan ini. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa