RADAR SURABAYA - Surabaya tempo dulu merupakan wilayah pedukuhan atau berbentuk sawah, perkebunan hingga semak-semak. Kawasan pedukuhan ini berada di luar batas tembok kota atau Stad Van Soerabaia.
Menurut pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, pada abad 20 kawasan pedukuhan sangat terlihat jelas dari peta topografi Surabaya.
Dalam peta tersebut pedukuhan ditandai dengan huruf D yang mempunyai arti Dukuh.
Nanang menyebut dukuh di Surabaya dengan tanda D. Groedo, D. Pandegiling, D. Koepang maupun D. Darmo
"Kawasan di dalam batas tembok ini disebut Kota Surabaya, sementara di kawasan luar batas tembok yang semakin ke arah selatan mengikuti aliran Kalimas adalah kawasan pedukuhan," ujar Nanang.
Pada peta buta kawasan dukuh diberikan warna hijau dan bergambar petak. Ketika kawasan sudah ada bangunan diberi warna marun atau terakota.
Namun saat ini masih ada nama-nama jalan di Surabaya yang masih menggunakan nama Dukuh seperti Dukuh Kupang, Dukuh Pakis, Dukuh Menanggal, Dukuh Setro dan Dukuh Sutorejo.
"Nama jalan tersebut yang sekarang identik dengan kata Dukuh merupakan toponimi (asal usul, Red) keberadaan dukuh pada zaman dulu," jelasnya.
Sekarang Surabaya yang luas areanya mencapai 374 km persegi dengan penduduk 3,02 juta jiwa, Nanang memastikan pedukuhan telah hilang.
"Secara administratif dukuh berubah menjadi kampung di dalam wilayah kelurahan," jelas Nanang.
Dukuh dulu juga bagian dari desa atau kelurahan yang terdiri dari beberapa pemukiman.
Namun dukuh menurut Nanang juga dapat diartikan sebagai dusun atau kampung kecil.
"Kenyataannya sekarang kawasan yang dulunya menjadi dukuh sudah berubah menjadi kawasan padat penduduk yang modern. Dulu nama dukuh di Surabaya bertolak dengan nama stad yang ada di dalam dan kawasan tembok kota," tutur Nanang.
Kota Surabaya dulu yang merupakan zona Eropa adalah kota lama sekarang.
Secara teritorial kota lama Surabaya terdiri dari zona Eropa, Pecinan, Melayu dan Arab. Zona Eropa merupakan kawasan yang berada di barat sungai Kalimas. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari