RADAR SURABAYA - Pembangunan Monumen Tugu Pahlawan Surabaya tak hanya sebagai pengingat pertempuran 10 November 1945.
Akan tetapi, juga dimaknai sebagai semangat militansi gotong royong, serta keberanian bangsa Indonesia kala itu melawan penjajahan.
Monumen setinggi 41,15 meter berbentuk lingga atau paku terbalik itu ternyata menyimpan misteri terkait pemrakarsa maupun arsitek monumen.
Menurut pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, dalam literasi Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudporapar) Kota Surabaya ada dua pendapat mengenai pencetus ide pembuatan Monumen Tugu Pahlawan
Nanang menyebut pertama menurut Gatot Barnowo monumen yang berada di Jalan Pahlawan Surabaya ini diprakarsai oleh Doel Arnowo, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Besar Surabaya.
Kemudian Doel Arnowo meminta Ir. Tan untuk merancang gambar monumen yang dimaksud, untuk selanjutnya diajukan kepada Presiden Soekarno.
Kemudian, Nanang melanjutkan, menurut Ir. Soendjasmono, pemrakarsa monumen ini adalah Ir. Soekarno. Ide ini mendapat perhatian khusus dari Wali kota Surabaya, Doel Arnowo.
Untuk perencanaan dan gambarnya diserahkan kepada Ir. R. Soeratmoko, yang telah mengalahkan beberapa arsitek lainnya dalam sayembara untuk pemilihan arsitek untuk membangun monumen ini.
"Jadi ada dua pendapat tentang pemrakarsa dari berdirinya monumen Tugu Pahlawan. Selain arsiteknya juga disebutkan ada yang menyebut sayembara hingga Ir. Tan," kata Nanang.
Sebelum menjadi monumen Tugu Pahlawan, lokasi tersebut merupakan gedung Raad Van Justitie atau gedung pengadilan tinggi pada zaman Hindia Belanda.
Kemudian saat penjajahan zaman Jepang tempat tersebut digunakan sebagai markas polisi militer Jepang.
Dan, setelah kemerdekaan gedung tersebut mengalami kerusakan selama perang kemerdekaan.
Nanang menyebut konstruksi monumen Tugu Pahlawan dimulai pada 10 November 1951 dan selesai pada November 1952. Lalu diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 10 November 1952.
"Jika Tugu Pahlawan menjadi simbol kejuangan, maka simbol rasa cinta Tanah Air dan nasionalisme adalah keragaman alam dan budaya Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, pembangunan monumen Tugu Pahlawan hingga jadi dilakukan dengan anggaran yang sangat terbatas.
Bahkan, saat akhir pembangunan atau menjelang peresmian anggaran terkumpul hanya Rp 160 ribu dari total anggaran Rp 323.100 dana yang dibutuhkan.
Sehingga upaya penghimpunan dana terus dilakukan hingga era Wali Kota Surabaya Moestajab memperoleh dana mulai dari perorangan, swadaya masyarakat hingga penyelenggara undian kupon berhadiah rumah. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari