RADAR SURABAYA - Nama-nama jalan di Surabaya yang dahulu menggunakan nama-nama berbahasa Belanda ternyata diubah di tahun 1950-an.
Hal ini dilakukan sebagai wujud nasionalisasi, pasca kemerdekaan Indonesia atau pengakuan kemerdekaan dari Belanda di tahun 1949.
Pegiat sejarah Surabaya Nanang Purwono menjelaskan, nama-nama jalan di Surabaya yang sebelumnya menggunakan bahasa Belanda, karena masih menjadi kedudukan dari pemerintah Hindia Belanda resmi diganti menggunakan bahasa Indonesia ketika era Wali Kota Surabaya, Doel Arnowo.
Sebagai wali kota yang baru terpilih tahun 1950, Cak Doel begitu akrab dipanggil langsung memberikan gebrakan dengan menasionalisasi nama-nama jalan dengan menggunakan bahasa Indonesia.
"Tepatnya Maret 1950, Doel Arnowo membuat kebijakan tentang perubahan nama jalan yang ada di Surabaya dengan berbahasa Indonesia," terang Nanang.
"Perubahan ini tepat satu tahun setelah Indonesia mendapat pengakuan merdeka dari pemerintah Belanda, Desember 1949," imbuhnya.
Menurut Nanang, perubahan nama-nama jalan dengan berbahasa Indonesia penting, sebab menyangkut administrasi warga dan pemerintah yang telah merdeka dan berdaulat untuk bernegara.
"Selepas dari penjajahan, Indonesia merdeka dan diakui maka penting untuk warga menyangkut administrasi juga pemerintahan," tuturnya.
Perubahan nama-nama jalan menurutnya ketika itu butuh waktu, karena tak sedikit warga yang masih mengikuti bahasa, pola pikir dan budaya Belanda.
"Jadi disesuaikan dulu dan itu butuh waktu, karena masih banyak pola pikir manusia saat sebelum kemerdekaan dan itu menjadi kebiasaan. Seperti Jalan Ondomohen dulu orang masih banyak mengucapkan. Padahal setelah diganti namanya Jalan Wali Kota Mustajab," jelasnya.
Ketika itu, Doel Arnowo sendiri memberikan nama jalan dengan berbagai ragam, ada nama jalan tentang pahlawan nasional ada juga nama jalan tentang nama-nama burung.
Ada pemberian nama dengan nama sungai, candi bahkan gunung.
"Jadi ada klaster sendiri-sendiri untuk nama jalan di Surabaya ketika itu yang di zaman Wali Kota Doel Arnowo," ungkap Nanang.
Perubahan nama jalan menggunakan bahasa Indonesia juga disosialisasikan.
Tak sedikit surat kabar dulu juga memberitakan perubahan nama jalan di Surabaya dari awal sampai akhir tahun 1950.
Karena perubahan nama yang dilakukan oleh pemerintah kota bertahap.
Nanang menyebut ada surat kabar Nieuwe Courant terus mengabarkan perubahan nama jalan mulai proses perubahan hingga rilis nama-nama baru.
"Di surat kabar itu (Nieuwe, Red) hampir setiap hari ada pemberitaan mengenai perubahan nama-nama jalan baru di Surabaya. Mulai Maret sampai akhir tahun," imbuhnya.
Selain itu peta kota Surabaya juga diganti. Peta lama Surabaya, yang terbit sebelum tahun 1950, menuliskan nama-nama lama.
Sementara setelah tahun 1950, penulisan nama-nama jalan menyesuaikan dan memakai nama nama baru. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari