RADAR SURABAYA - Jalan Pandegiling, Surabaya menyimpan sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri.
Nama jalan yang juga dikenal sebagai Tamarindelaan ini ternyata berkaitan erat dengan aktivitas perajin dan perkebunan tebu di masa lalu.
Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono menjelaskan, asal-usul nama Pandegiling yang berasal dari dua kata, yaitu pande dan giling.
Pande, dalam konteks Jawa kuno, merujuk pada seseorang yang ahli mengolah logam, seperti besi, untuk membuat berbagai alat, termasuk alat pertanian.
Secara umum, pande diartikan sebagai perajin yang membuat peralatan.
Sementara itu, giling atau gilingan adalah alat untuk menggiling, khususnya tebu untuk menghasilkan nira atau jus tebu.
"Bisa diduga bahwa di kawasan Pandegiling pada zaman dahulu banyak warga setempat yang pekerjaannya membuat gilingan tebu untuk produksi gula," ungkap Nanang.
Nanang menambahkan, berdasarkan peta lama Surabaya, kawasan Pandegiling merupakan lahan hijau agraris.
"Ini terbukti bahwa di kawasan ini dulunya pernah ada kebun tebu untuk mensuplai pabrik gula yang pernah berdiri di sekitarnya," jelasnya.
Oleh karena itu, diduga kuat lahan agraris Pandegiling berupa perkebunan tebu.
Keberadaan pabrik gula biasanya didukung oleh sumber air.
Di kawasan Pandegiling terdapat sungai kecil bernama Kali Pandegiling yang tercatat dalam peta lama.
"Hingga sekarang kali itu masih ada, mengalir sejajar dengan Jalan Kupang Segunting I, yang bisa diamati dari Jalan Pandegiling sekarang," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari