RARAR SURABAYA - Surabaya, kota yang dikenal sebagai pusat perdagangan dan industri di Indonesia, menyimpan berbagai warisan budaya yang terus berkembang.
Salah satu yang paling mencolok adalah Chinatown Surabaya, sebuah kawasan yang sejak berabad-abad lalu telah menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat Tionghoa.
Berlokasi di kawasan Kembang Jepun, Chinatown Surabaya tidak hanya menjadi simbol hubungan erat antara Indonesia dan Tiongkok, tetapi juga sebuah bukti nyata bagaimana keberagaman budaya bisa hidup berdampingan.
Kawasan ini telah melalui banyak perubahan sejak era kolonial Belanda hingga masa pemerintahan modern.
Pada awal 2000-an, saat Bambang Dwi Hartono menjabat sebagai Wali Kota Surabaya, bangunan-bangunan peninggalan kolonial yang mendominasi kawasan ini mulai diperbaiki dan dicat ulang untuk memberikan tampilan yang lebih rapi dan menarik.
Di era kepemimpinan Tri Rismaharini, Chinatown semakin berkembang dengan hadirnya Kya Kya, sebuah pusat wisata kuliner yang menghidupkan kembali suasana khas Pecinan.
Kini, di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi, program Sister City dengan kota-kota di Tiongkok seperti Xiamen dan Guangzhou terus diperkuat, membawa dampak nyata bagi perekonomian dan kebudayaan kedua belah pihak.
"Saya berharap tidak hanya sekadar tanda tangan Sister City saja, tapi harus ada dampak nyata bagi kedua belah pihak," ujar Eri.
Ia menekankan pentingnya kerja sama ekonomi, seperti pemasaran produk UMKM Surabaya di Tiongkok dan sebaliknya, agar hubungan ini lebih dari sekadar diplomasi seremonial.
Salah satu daya tarik utama Chinatown Surabaya adalah Kya Kya, pusat kuliner yang beroperasi setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu mulai pukul 16.00 WIB.
Pengunjung dapat menikmati berbagai hidangan khas Tiongkok, mulai dari bakpao, dim sum, hingga olahan mie dan seafood yang menggugah selera.
Menurut seorang warga lokal, Pak Sian, 46, kawasan ini dulu buka setiap hari di era Bambang D.H., namun kini hanya beroperasi pada akhir pekan.
"Kalau dulu setiap hari, sekarang cuma Jumat sampai Minggu, tapi tetap ramai," katanya.
Pak Sian, yang telah tinggal di sekitar Chinatown sejak era 1980-an, tidak melihat keberadaan kawasan ini sebagai ancaman bagi warga lokal.
"Orang-orangnya ramah, tidak ada yang merasa dibeda-bedakan. Namanya juga Chinatown, ya wajar kalau banyak etnis Tionghoa. Tapi di sini semua orang tetap bisa berbaur," ujarnya.
Baginya, keberadaan Chinatown justru memperkaya budaya kota dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Sejarah Chinatown di Surabaya sendiri sudah berlangsung sejak abad ke-15, ketika para pedagang Tionghoa mulai bermigrasi dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Seiring waktu, kawasan ini berkembang menjadi pusat bisnis yang dikelola oleh etnis Tionghoa, mulai dari toko obat tradisional hingga restoran dan toko kelontong.
Salah seorang pemilik toko di kawasan ini menceritakan bahwa awalnya warga Tionghoa mengalami kesulitan untuk membuka usaha karena status mereka sebagai Warga Negara Asing (WNA).
"Dulu pas masih jadi WNA agak susah buka toko di sini, tapi sekarang sudah jadi WNI, sudah tidak sulit lagi," katanya.
Kini, Chinatown Surabaya bukan hanya tempat untuk bernostalgia, tetapi juga simbol keberagaman yang harus dijaga.
Dalam nuansa lampion merah yang menghiasi jalanan Kembang Jepun, setiap pengunjung diajak untuk merasakan atmosfer khas Pecinan yang tetap bertahan di tengah modernisasi kota.
Bagi Surabaya, Chinatown bukan hanya sebuah kawasan, melainkan jantung kehidupan sosial dan ekonomi yang terus berdetak, membawa cerita dari masa lalu ke masa depan. (*/nur)
Editor : Nurista Purnamasari