Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Perang Pena Pers Belanda VS Pers Tionghoa-Melayu di Surabaya Era Kolonial

Rahmat Sudrajat • Minggu, 16 Februari 2025 | 17:51 WIB
Salah satu surat kabar berbahasa Melayu di era Hindia Belanda
Salah satu surat kabar berbahasa Melayu di era Hindia Belanda

RADAR SURABAYA - Lahirnya Budi Utomo di Surabaya tak lepas dari geliat dunia pers.

Tak hanya media milik pemerintah kolonial Belanda yang mendominasi, tetapi juga media yang dikelola oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia serta media Tionghoa-Melayu.

Pegiat sejarah, Nur Setiawan menjelaskan dinamika pers di masa Hindia Belanda yang terdiri dari tiga kelompok utama pers Belanda, pers Tionghoa-Melayu, dan pers nasional Indonesia.
Baca Juga: BhinekaCo, Board Game Unik Bertema Pakaian Adat 32 Suku Indonesia

"Pers Belanda umumnya menyuarakan kepentingan penjajah, sementara pers Indonesia, yang dikelola tokoh-tokoh pergerakan nasional, menyatakan semangat kebangsaan dan kemerdekaan," jelas Nur kepada Radar Surabaya.

Benturan antara pers Indonesia dengan pemerintah kolonial Belanda merupakan bagian dari perlawanan terhadap penjajahan.

Beberapa surat kabar yang dikelola oleh tokoh pergerakan nasional antara lain Suara Umum (dipimpin dr Soetomo), Indonesia Berjuang (PNI dan Partindo), Sawunggaling (Syarekat Islam), Buletin Kamus Marhaen (Doel Arnowo dkk.).

Kemudian Suluh Indonesia (Studie Club Surabaya, dipimpin dr Soetomo), dan Indonesia Muda (Studie Club Bandung, dipimpin Ir. Soekarno).

Suluh Indonesia dan Indonesia Muda kemudian bergabung menjadi Suluh Indonesia Muda.

"Puncak ketegangan terjadi pada tahun 1932, ketika terjadi perang pena antara pers Belanda dan pers Tionghoa-Melayu, Sin Tit Poo, yang dipimpin Lie Koen Hian. Peristiwa ini bermula dari pertandingan sepak bola antara klub Tionghoa dan Belanda di Surabaya," tuturnya.
Baca Juga: Danau Unesa, Oase Keindahan yang Rawat Ratusan Ikan

Klub Tionghoa merasa diperlakukan tidak adil dan keluar dari perserikatan sepak bola Belanda.

Mereka kemudian mengadakan kompetisi sendiri, diikuti klub Tionghoa, Arab, dan Indonesia.

Kebetulan, perserikatan sepak bola Belanda juga mengadakan pertandingan pada hari yang sama, sehingga pertandingan mereka sepi penonton.

"Akibatnya, Lie Koen Hian ditangkap polisi Belanda," ujar Nur.

Sebagai bentuk solidaritas, pers Indonesia membentuk Komite van actie persatuan bangsa Asia di Surabaya.

Peristiwa ini menunjukkan peran penting pers nasional dalam menggelorakan semangat persatuan bangsa Asia. 

"Mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia, membela rakyat tertindas, dan memperjuangkan kemerdekaan," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Surabayapedia #pers #Budi Utomo #perang #hindia belanda #kolonial #Dr Soetomo