RADAR SURABAYA - Pabean Cantikan, salah satu kawasan di Surabaya Utara ini merupakan kawasan lawas.
Sebagian kawasannya merupakan berada pada wilayah penting Surabaya di era Hindia Belanda.
Nama Pabean Cantikan sendiri berasal dari susunan dua kata, yakni bea dan can tee. Selain itu kawasan ini berada dekat dengan pelabuhan dan tempat orang-orang Tionghoa tinggal.
Pemerhati sejarah Surabaya, Nur Setiawan menjelaskann Pabean adalah bea diartikan mempunyai makna kepabeanan atau bea cukai.
Sebab dahulu pada abad 18-19 di kawasan tersebut pernah berdiri syahbandar (pelabuhan) tempat untuk memeriksa serta memungut pajak kapal dari luar pulau maupun luar negeri yang berlabuh di tempat itu.
“Syahbandar tersebut berada di sisi timur Kalimas tak jauh dari jembatan merah,” kata Wawan, sapaan akrabnya Nur Setiawan.
Sementara untuk kata cantikan ini berawal dari bahasa prokem orang-orang Tionghoa yang bermukim di Surabaya ada masa lampau.
Menurut Pak Choesni Herlingga, Cantikan berawal dari bahasa Cina yaitu can tee dan mempunyai dua makna.
Can tee bisa diartikan sekumpulan orang. Sedangkan makna kedua adalah upaya peminjaman uang.
“Jika ditinjau, secara wilayah Pabean Cantikan memang berdekatan dengan kampung pecinan. Dimana wilayah ini merupakan tempat para pelaku usaha dan kawasan perdagangan di masa lampau hingga kini,” ungkapnya. (jar/nur)
Editor : Nurista Purnamasari