RADAR SURABAYA - Jalan Pahlawan pada masa Hindia Belanda bernama Alon-alon Straat atau memiliki arti jalan alun-alun.
Pergantian nama menjadi Jalan Pahlawan dilakukan setelah kemerdekaan, karena ada peristiwa heroik dan monumen Tugu Pahlawan di kawasan itu.
Pemerhati Sejarah Surabaya, Nur Setiawan menjelaskan, pemerintah kolonial menamakan jalan itu sesuai kemelekatan sejarah yang ada disana.
Sebab dimasa lampau kawasan itu merupakan jantung Keraton Surapringga (Surabaya) atau terletak tidak jauh dari pusat pemerintahan.
Pada masa kolonial seorang pendeta Eropa bernama Francois Valentijn dalam catatannya mengatakan melihat pangeran Surabaya menunggang gajah di alun-alun Surabaya.
Sang pangeran memantau pasukan keraton yang sedang berlatih kemiliteran.
Bahkan ketika paruh abad 19, saat kompleks Keraton Surabaya yang berada di daerah Kebon Rojo, Maspati dan lain sebagainya sudah tidak ada disalah satu ruas kawasan tersebut nama Aloon-aloon Straat masih dipertahankan.
“Baru setelah merdeka menjadi Jalan Pahlawan,” kata Wawan, sapaan akrab Nur Setiawan.
Menurutnya, pasca Indonesia merdeka perubahan nama terjadi di Aloon-aloon straat.
Perubahan ini terkait dengan insiden perang 10 Nopember 1945. Sebab di kawasan itu dahulu terjadi peristiwa heroik antara pejuang Indonesia menghadapi tentara sekutu demi mempertahankan kedaulatan bangsa. (jar/nur)
Editor : Nurista Purnamasari